iPhone Duo Rilis, Sebetulnya Kita Butuh Nggak Sih Sama HP Kayak Begini?
Di tengah harga gadget yang semakin tinggi akibat kenaikan harga RAM dan SSD, perusahaan teknologi ternyata belum mau berhenti bikin kita tergoda. Apple salah satunya. Bersamaan dengan gadget-gadget baru mereka yang lain, Apple merilis iPhone Duo.
Buat saya, iPhone Duo jelas terasa istimewa. Ini adalah HP lipat pertama Apple setelah Samsung menjadi inovator di pasar HP lipat sekitar tujuh tahun lalu.
Kamera yang bisa hilang, animasi ketika HP dibuka dan ditutup, dan berbagai hal lainnya langsung menjadi bahan pembicaraan. Dilihat dari mana pun, HP ini memang keren.

Tapi pertanyaan saya justru sederhana: sebetulnya kita butuh nggak sih HP kayak begini?
Pertanyaan ini mungkin terdengar seperti pembelaan orang yang nggak punya duit buat membelinya. Ya, memang saya nggak punya Rp35 jutaan untuk membeli sebuah HP. Tapi kalaupun duitnya ada, pertanyaan itu tetap relevan.
Sebab, keren dan berguna adalah dua hal yang berbeda.
HP lipat memang keren, saya juga pernah pengin
Saya nggak menampik betapa kerennya HP lipat. Ketika Samsung pertama kali mengeluarkan seri Flip dan Fold, saya juga pengin punya. Ada sesuatu yang menyenangkan ketika melihat sebuah layar besar bisa dilipat menjadi perangkat yang lebih kecil.
Rasanya futuristik saja.
Masalahnya, setelah rasa kagum itu hilang, saya mulai melihat hal-hal lain. HP lipat punya persoalannya sendiri. Ada masalah layar, garis hijau, dan lain sebagainya. Harganya pun super mahal.
Saya nggak akan bilang iPhone Duo pasti mengalami masalah yang sama. Produknya juga belum terbukti akan bermasalah. Bisa saja baik-baik saja.
Tapi apakah nanti benar-benar tidak akan muncul masalah?
Entahlah.
Yang jelas, dengan harga paling murah sekitar Rp35 jutaan, saya akan berpikir berkali-kali sebelum mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah HP yang bisa dilipat.
Animasi ketika dibuka memang keren. Kamera yang bisa hilang juga keren.
Tapi setelah semua kekerenan itu selesai kita nikmati, lalu apa?
Setelah dibuka dan ditutup, kita tetap scrolling
Sebagai orang yang mendalami Digital Minimalism, saya justru melihat persoalannya dari sini.
Kita sering menganggap perangkat baru akan mengubah bagaimana kita menggunakan teknologi. Padahal, belum tentu.
Beli HP Rp2 juta, kita scrolling.
Beli HP Rp10 juta, kita scrolling.
Beli HP Rp35 juta, kemungkinan besar kita juga masih scrolling.
Sama-sama bikin konten. Sama-sama balas WhatsApp. Sama-sama buka media sosial. Sama-sama melakukan hal yang sebelumnya sudah bisa dilakukan HP lama.
Bedanya mungkin sekarang sebelum scrolling kita bisa membuka layar dengan animasi yang keren.
Saya tentu nggak mau menjustifikasi orang yang mau membeli iPhone Duo. Silakan saja. Duit-duit sendiri juga. Ada yang mungkin memang pecinta teknologi dan senang mencoba sesuatu yang baru. Ada yang membelinya karena keren. Ada pula yang mungkin memang suka dengan gengsi yang diberikan sebuah barang mahal.
Dan menurut saya, semua itu sah-sah saja.
Saya pun pengin punya iPhone Duo.
Serius.
Kalau ada yang kasih gratis, ya saya terima. Nggak akan saya ceramahi orang yang ngasih tentang Digital Minimalism.
Masalahnya, kalau harus membeli sendiri, saya harus bertanya lagi: perangkat ini benar-benar membantu aktivitas saya atau cuma membuat saya merasa sedang memakai teknologi paling baru?
Digital Minimalism bukan berarti harus pakai HP jelek
Menurut saya, Digital Minimalism juga bukan berarti kita harus membenci gadget mahal atau sengaja memakai perangkat jelek supaya terlihat sederhana.
Bukan begitu.
Justru yang penting adalah tahu alasan kenapa kita menggunakan sebuah perangkat.
Selama dua tahun terakhir, Samsung A06 5G sudah menemani aktivitas saya dengan sangat sempurna. Nggak ada masalah berarti. Semua kebutuhan saya bisa dilakukan dari HP tersebut.
Apalagi, saya sudah memindahkan medsos dari HP saya ke tablet supaya nggak kecanduan pakai HP.
Chatting bisa.
Bikin konten bisa.
Melakukan hal-hal yang saya perlukan juga bisa.
Harganya sekitar Rp2 jutaan.
Jadi, buat apa saya membeli HP puluhan juta kalau HP Rp2 jutaan saja sudah bisa memenuhi kebutuhan saya?
Memang iPhone Duo jauh lebih keren. Nggak ada perdebatan soal itu. Kalau Samsung A06 5G saya diletakkan di sebelah iPhone Duo, orang juga tahu mana yang lebih bikin ingin dipamerkan.
Tapi sekali lagi, saya sedang membeli alat atau membeli kekerenan?
Kalau yang dicari memang kekerenan, ya nggak masalah. Setidaknya kita jujur kepada diri sendiri.
Masalah muncul ketika kita meyakinkan diri bahwa sebuah perangkat baru adalah kebutuhan, padahal sebenarnya kita cuma sedang menginginkannya.
Mungkin cuma gimmick, tapi belum tentu selamanya begitu
Untuk sekarang, saya menganggap iPhone Duo sebagai gimmick.
Keren, tetapi belum terasa fungsional buat aktivitas saya.
Saya tidak melihat alasan untuk mengeluarkan puluhan juta rupiah demi mengganti HP yang sekarang sudah bekerja dengan sangat baik hanya karena perangkat baru itu bisa dilipat, punya animasi keren ketika dibuka, atau menawarkan pengalaman baru.
Tapi bukan berarti gimmick selalu buruk.
Kadang-kadang inovasi memang muncul dari sesuatu yang awalnya terasa seperti gimmick. Hal yang sekarang kita anggap nggak penting bisa saja beberapa tahun lagi menjadi sesuatu yang benar-benar fungsional.
Mungkin HP lipat juga begitu.
Hanya saja, sampai fungsi itu benar-benar saya butuhkan, saya memilih melihat iPhone Duo dari jauh saja.
Kagum boleh. Pengen juga boleh.
Tapi membeli sesuatu hanya karena keren bukan berarti kita membutuhkannya.
Dan kadang, persoalan terbesar kita dengan gadget memang bukan karena teknologinya kurang canggih.
Kita saja yang terlalu mudah dibuat merasa kurang.
Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur
Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.
