Di Balik Tradisi Kuda Kosong Cianjur, Ada Pesan Sejarah dan Kepemimpinan
CIANJURUPDATE.COM— Tradisi helaran Kuda Kosong kembali memeriahkan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Hari Jadi Cianjur ke-349 di Kabupaten Cianjur.
Pemangku Tradisi Adat Kuda Kosong, Dadang Ahmad Fajar, menegaskan bahwa kehadiran Kuda Kosong dalam rangkaian helaran bukan sekadar tontonan, melainkan sarat akan nilai historis, edukasi, hingga simbol kearifan lokal.
"Jenisnya masih seperti tahun-tahun kemarin. Tidak ada pesan moral lain kecuali ini adalah fakta historis yang memberikan edukasi kepada masyarakat melalui bentuk helaran," ujar Dadang saat ditemui di sela-sela kegiatan peringatan HUT RI, Sabtu (22/8/26).

Dadang menuturkan, Kuda Kosong merupakan bukti sejarah keberhasilan diplomasi masa lalu antara Cianjur dan Kerajaan Mataram. Tradisi ini membuktikan bahwa hubungan kedua wilayah terjalin atas dasar persahabatan, bukan sebagai bentuk jajahan.
"Ini menunjukkan kita bersahabat dengan Mataram. Tanpa pertempuran, tanpa perang, dan tanpa pertumpahan darah cukup dengan diplomasi. Kearifan lokal itu ternyata sangat efektif dalam menyelesaikan persoalan," tegasnya.
Menjelaskan asal-usulnya, Dadang menceritakan bahwa kuda yang digunakan dalam tradisi ini merepresentasikan kuda pemberian Raja Mataram sebagai hadiah untuk Dalem Cianjur (Bupati Cianjur pada masa itu). Dadang pun berharap tidak ada lagi pemimpin atau Bupati Cianjur di masa depan yang berupaya menjagal atau menghilangkan tradisi Kuda Kosong dari helaran daerah.
Filosofi dan Makna di Balik Kuda Kosong
Menurut Dadang, tradisi Kuda Kosong menyimpan empat makna utama:
• Fakta Historis: Menandakan kedudukan Cianjur pada masa lalu sebagai wilayah yang mandiri dan berdaulat.
• Makna Diplomasi & Filosofis: Bukti bahwa permasalahan besar dapat diselesaikan melalui komunikasi yang setara (sawawa) tanpa kekerasan.
• Unsur Pedagogis (Edukasi): Saat hadiah kuda tersebut dibawa dari Mataram, yang berangkat adalah adik dari Dalem Cianjur. Karena kuda tersebut ditujukan khusus untuk sang kakak (Bupati), sang adik menolak untuk menungganginya sepanjang perjalanan. Penghormatan inilah yang melatarbelakangi mengapa kuda tersebut dibiarkan kosong tanpa penunggang.
• Fakta Sosiologis (Oto-Kritik Pemimpin): Kuda yang dibiarkan kosong menjadi tamparan otokritik dan pertanyaan retoris bagi siapapun yang menjabat sebagai Bupati Cianjur. Dalam helaran, elemen masyarakat seperti pelajar, mahasiswa, TNI, hingga Polri berjalan di belakang Kuda Kosong, melambangkan tanggung jawab besar yang harus diemban oleh seorang pemimpin.
Selain itu, ritual pembakaran kemenyan (kukus) dalam tradisi ini kerap disalahartikan. Dadang meluruskan bahwa kukus memiliki makna filosofis yang mendalam terkait kepemimpinan.
"Kukus itu bukan simbol mendatangkan hantu, tapi simbol filosofis: Lamun rek jadi Bupati di Cianjur, kudu nyebarkeun heula kawangi (Jika ingin menjadi Bupati di Cianjur, harus menyebarkan harum kebaikan dan berjasa terlebih dahulu)," pungkas Dadang, menekankan pentingnya rekam jejak para leluhur Cianjur yang memiliki garis keturunan hingga Prabu Siliwangi.***
Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur
Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.


