Panas! Ketum HMI Cianjur Kritik Cak Imin soal NU: Jangan Pecah Umat
CIANJURUPDATE.COM - Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cianjur, Ridha Nestu Adidarma, menyoroti pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang mengaitkan kondisi Nahdlatul Ulama (NU) dengan latar belakang organisasi mahasiswa sejumlah jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ridha menilai narasi yang mengaitkan kondisi NU dengan latar belakang organisasi mahasiswa seseorang berpotensi mencederai nilai-nilai inklusivitas yang selama ini menjadi salah satu karakter NU.
“NU sejak awal berdirinya merupakan rumah bersama yang menjunjung tinggi prinsip inklusivitas dan persatuan umat. Karena itu, latar belakang organisasi mahasiswa seharusnya tidak dijadikan dasar untuk menilai legitimasi maupun kualitas kepemimpinan seseorang di NU,” kata Ridha dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).

Menurut Ridha, penilaian terhadap kinerja kepengurusan PBNU semestinya dilakukan berdasarkan indikator kelembagaan, pelaksanaan program kerja, serta capaian organisasi.
Dia menilai mengaitkan kondisi NU dengan latar belakang HMI dari sebagian pengurus PBNU merupakan bentuk generalisasi yang kurang tepat.
“Kinerja sebuah organisasi semestinya dievaluasi berdasarkan indikator kelembagaan, program kerja, dan capaian substantif, bukan berdasarkan afiliasi historis seseorang ketika masih menjadi mahasiswa,” ujarnya.
Ridha mengingatkan narasi yang mempertentangkan latar belakang organisasi mahasiswa dapat menimbulkan sekat di tengah umat.
“Jika narasi semacam ini terus berkembang, kami khawatir justru berpotensi mencederai semangat persatuan yang selama ini menjadi ciri khas inklusivitas NU,” katanya.
Singgung Komposisi Pengurus PBNU
Ridha juga menyinggung komposisi kepengurusan PBNU yang menurutnya berasal dari beragam latar belakang organisasi mahasiswa, termasuk alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Dia mengatakan HMI selama ini tidak pernah mempermasalahkan keberadaan ataupun kontribusi alumni PMII di tubuh PBNU.
“Bagi kami, ukhuwah Islamiyah dan semangat kekaryaan harus ditempatkan di atas sentimen almamater organisasi mahasiswa,” kata Ridha.
Menurutnya, keberagaman latar belakang tersebut justru dapat menjadi kekuatan bagi NU selama setiap pengurus memiliki komitmen yang sama terhadap organisasi.
Ridha juga menyinggung sikap Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang pernah memberikan apresiasi terhadap kontribusi intelektual alumni organisasi mahasiswa bagi NU.
Hal tersebut, kata Ridha, seharusnya menjadi gambaran bahwa hubungan antarorganisasi mahasiswa Islam dan NU dapat dibangun dalam semangat saling menghargai, bukan dalam persaingan yang saling meniadakan.
'NU Rahmatan lil Alamin, Bukan Rahmatan Lil Muhaimin'
Ridha kemudian menegaskan NU merupakan organisasi keagamaan yang keberadaannya melampaui kepentingan figur maupun kelompok tertentu.
“NU hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin, bukan ‘rahmatan lil Muhaimin’. NU jauh lebih besar daripada kepentingan figur ataupun golongan tertentu,” tegasnya.
Atas dasar itu, Ridha mengajak seluruh elemen umat, termasuk tokoh politik dan organisasi mahasiswa Islam, untuk mengedepankan narasi yang konstruktif dan berbasis data.
“Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga marwah NU sebagai organisasi keagamaan yang inklusif dan menjadi teladan dalam merawat persatuan umat,” pungkasnya.
Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur
Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.


