Kopi Nako Cianjur Bantah Stigma sebagai Tempat LGBT, Tegaskan Komitmen Jaga Kenyamanan dan Etika
CIANJURUPDATE.COM– Pengelola Kopi Nako Cianjur membantah stigma yang beredar di masyarakat bahwa tempat usahanya menjadi lokasi yang memfasilitasi aktivitas LGBT. Pengelola menegaskan Kopi Nako merupakan tempat usaha yang fokus berjualan dan tidak mendukung maupun menyediakan fasilitas untuk aktivitas yang bertentangan dengan norma masyarakat.
Komitmen tersebut ditunjukkan dengan pemasangan spanduk imbauan bertuliskan “Kopi Nako Zona Nyaman dan Beretika”. Spanduk tersebut diperkenalkan dalam kegiatan tasyakuran dan secara resmi dibuka pada Sabtu (15/8/2026), yang turut dihadiri anak-anak yatim dan unsur masyarakat.
Manajer Kopi Nako Cianjur, Rudi Saputra, mengatakan pihaknya sengaja memberikan respons positif terhadap berbagai isu yang berkembang dengan memperkuat komitmen untuk menjaga tempat usaha tetap aman, nyaman, dan sesuai etika.

“Menindaklanjuti isu-isu yang beredar, apalagi katanya kita sebagai tempat untuk hal-hal seperti itu (LGBT), sebetulnya kita tidak mendukung hal-hal tersebut,” ujar Rudi.
Menurutnya, berbagai kegiatan positif sebenarnya sudah dilakukan Kopi Nako sejak lama, namun belum banyak terekspos kepada masyarakat.
Ia menegaskan, Kopi Nako hanya menjalankan kegiatan usaha dan tidak memberikan tempat untuk aktivitas yang tidak diinginkan.
“Kopi Nako hanya berjualan, hanya berbisnis, tidak memberikan tempat untuk hal-hal yang tidak kita inginkan,” katanya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren At-Taqwa Cikidang, Umar Burhanudin atau yang akrab disapa Bah Umar, mengatakan kedatangannya bersama anak-anak yatim merupakan undangan resmi dari pihak Kopi Nako untuk melaksanakan zikir, shalawat dan tasyakuran.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 30 anak yatim dan 20 orang bapak-bapak yang mengabdi turut hadir, sehingga total peserta yang dibawa mencapai sekitar 50 orang.
Bah Umar menjelaskan, pemasangan spanduk imbauan tersebut merupakan bagian dari upaya bersama untuk menciptakan suasana yang aman, damai dan nyaman bagi seluruh pengunjung maupun pekerja.
“Yang diminta itu anak yatim. Alhamdulillah kita bawa anak yatim sekitar 30 orang, kemudian bapak-bapak yang ngabdi 20 orang, jadi 50 orang. Kegiatannya dalam rangka tasyakuran tempat ini,” ujarnya.
Ia menyebut, imbauan tersebut dibuat berdasarkan aspirasi masyarakat dan melibatkan konsorsium organisasi kemasyarakatan (ormas). Menurutnya, keberadaan imbauan penting agar masyarakat memahami bahwa tempat usaha tersebut berkomitmen menjaga kenyamanan.
“Intinya bahwa tidak semua kafe ini jelek. Kalaupun ada yang jelek-jelek, itu urusan mereka. Kita jangan sampai memancing orang-orang lain, masyarakat, untuk mengadakan gerakan yang tidak kondusif,” kata Bah Umar.
Bah Umar juga membedakan antara aktivitas berdagang dengan memfasilitasi kegiatan tertentu. Menurutnya, selama kafe menjalankan fungsi sebagai tempat usaha dan tidak menyediakan fasilitas untuk aktivitas yang melanggar norma, keberadaannya perlu didukung dengan tetap mengedepankan aturan dan etika.
Ia berharap langkah yang dilakukan Kopi Nako dapat menjadi contoh bagi tempat usaha lainnya di Cianjur untuk menciptakan ruang publik yang aman dan nyaman.
“Kita coba, dan kita sudah coba semua kafe untuk seperti ini. Yang bisa kerja sama, yang bisa ini baru Kopi Nako,” ungkapnya.
Bah Umar bahkan mendorong agar ke depan konsep tempat usaha yang mengedepankan nilai-nilai syariah dan etika dapat semakin berkembang di Cianjur.
“Kalau perlu, kalau ada bank-bank syariah, kalau ada apa-apa syariah, kenapa tidak ada kafe syariah? Kan bisa. Mudah-mudahan kafe bisa seperti itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, upaya tersebut bukan dimaksudkan untuk melakukan penutupan terhadap tempat usaha, melainkan mendorong terciptanya suasana yang kondusif serta menjaga kepentingan masyarakat dan para pekerja.
“Yang jelas begini, ini untuk Cianjur, untuk masyarakat Cianjur, yang kerja orang Cianjur,” katanya.
Bah Umar juga mengimbau tempat hiburan atau kafe lainnya agar mengikuti langkah serupa dengan memasang imbauan yang jelas terkait keamanan, kenyamanan dan etika.
Menurutnya, setiap langkah harus dilakukan dengan mengedepankan komunikasi agar tidak menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.
“Pokoknya yang di luar yang kita tidak tahu ya urusan sendiri. Yang penting kebajikan kita bersama, menjaga Cianjur damai,” pungkasnya.***
Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur
Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.


