Tekan Enter untuk mencari · Esc untuk menutup

Cianjur Update
Beranda Berita Nasional & Regional Pendidikan Bisnis & UMKM Olahraga Gaya Hidup Hiburan Otomotif Tips dan Tutorial Teknologi & Gadget Tentang Kami Kontak
Berita

Di Balik Kejayaan Kopi Cianjur, Ada Kisah Pahit yang Terlupakan

Terbit 16 Feb 2025 00:30 WIB · 1 menit dibaca
Bagikan
Di Balik Kejayaan Kopi Cianjur, Ada Kisah Pahit yang Terlupakan — Cianjur Update
Ilustrasi buah kopi. (Foto: Pixabay.com)

Novel Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kesaksian Nyai Apun Gencay karya Saep Lukman menyingkap sejarah kopi Cianjur dari sisi yang jarang diungkap.

Dalam peluncuran novel ini di NFEEL Cafe Cianjur pada Jumat (14/2/2025), sutradara teater Heliana Sinaga menyoroti kekuatan naratif novel yang menggabungkan unsur sejarah dan fiksi secara sinematik.

“Izin ya, mungkin apa yang saya bilang ini bukanlah sejarah, tapi juga fiksi, mungkin fiksi, tapi juga sejarah,” ujar Heliana dalam diskusi tersebut.

Iklan sevilage

Novel ini tidak hanya mengangkat kejayaan kopi Cianjur, tetapi juga menyelami sisi gelapnya.

Baca Juga
Sejumlah Massa Sweeping Kafe dan THM di Cianjur, Soroti Miras dan Dugaan Aktivitas LGBT
Berita · Berita terkait

Jurnalis dan aktivis lingkungan Tosca Santoso menyoroti bagaimana sistem tanam paksa Belanda yang didukung penguasa lokal menyebabkan penderitaan bagi petani Priangan.

“Sejarah kopi selalu merujuk pada kejayaan wilayah Cianjur sebagai salah satu pusat produksi kopi dunia pada abad ke-18. Namun, di balik nostalgia tersebut, ada kisah pahit yang jarang dikemukakan, seperti penderitaan petani Priangan akibat sistem tanam paksa yang diberlakukan Belanda dengan dukungan para penguasa lokal saat itu,” ujarnya.

Tosca menjelaskan bahwa petani dipaksa menanam kopi dengan sistem yang tidak adil.

Baca Juga
Chaeronsyah Pimpin IJTI Cianjur, Siap Bangun Jurnalis Kredibel
Berita · Berita terkait
Novel Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kesaksian Nyai Apun Gencay karya Saep Lukman mendapat apresiasi dari sutradara teater terkemuka, Heliana Sinaga. Foto: Istimewa

“Petani Priangan yang biasanya berhuma dengan rotasi, dipaksa menetap dan wajib tanam kopi, menelantarkan tanaman kebutuhan mereka sendiri,” katanya.

Tidak hanya itu, petani juga harus menyerahkan hasil panennya dengan harga yang ditentukan oleh VOC.

“Satu keluarga dijatah tugas 1.000 batang kopi. Hasilnya harus dijual ke Belanda, lewat para bupati, dengan harga yang ditentukan VOC sendiri. Petani yang menolak, menghadapi risiko penjara dan aniaya,” tambahnya.

Novel ini membawa pembaca ke desa Nyalindung, tempat Apun Gencay tumbuh dan menyaksikan ketidakadilan sosial di kebun kopi.

Baca Juga
Tingkatkan Kesadaran Keselamatan Ketenagalistrikan, PLN Cianjur Edukasi Warga tentang Penggunaan Listrik yang Aman
Berita · Berita terkait

Tokoh Yudira hadir sebagai generasi muda yang berani melawan ketidakadilan, meski perjuangannya penuh dilema.

Saep Lukman, melalui narasinya yang liris, tidak hanya menampilkan sejarah kolonialisme dan sistem agraris, tetapi juga merefleksikan keberanian dan perjuangan rakyat kecil.

Peluncuran novel ini menjadi bagian dari program CIANJUR 1834 yang bertujuan mengangkat sejarah dan budaya Cianjur sepanjang tahun 2025.

QRIS Cianjur Update

Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur

Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.

PT Inti Media Cianjur QRIS didukung GoPay, OVO, Dana, dan semua bank
Penulis: Afsal Muhammad | Editor: Redaksi
Preferensi Sumber Google
🎉 Selamat HUT ke-349 Cianjur Lihat Semua →
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
×
{