Tekan Enter untuk mencari · Esc untuk menutup

Cianjur Update
Beranda Berita Nasional & Regional Pendidikan Bisnis & UMKM Olahraga Gaya Hidup Hiburan Otomotif Tips dan Tutorial Teknologi & Gadget Tentang Kami Kontak
Berita

500 Tahun Hilang, Kalender Sunda Dibangkitkan Kembali

Terbit 20 Aug 2018 04:42 WIB · 2 menit dibaca
Bagikan
500 Tahun Hilang, Kalender Sunda Dibangkitkan Kembali — Cianjur Update
Raja dan Sultan se-Nusantara memegang Kalender Sunda. Mereka mengapresiasi dibangkitkannya lagi kalender sunda yang sudah hilang selama 500 tahun

Turut Hadir Perwakilan Dari Kerajaan Inggris

Cianjur Update – Bengkel Studi Budaya (Bestdaya) memperingati tahun baru kalender sunda yang disebut Pabaru Sunda 1955 Caka Sunda di Istana Kepresidenan Cipanas, Minggu (19/08/2018). Pada kesempatan itu, Bestdaya juga sekaligus meluncurkan dan mensosialisasikan kalender sunda.

Kegiatan yang digelar mulai senja hingga malam hari itu, juga dihadiri oleh para Raja dan Sultan se-Nusantara. Diterbitkannya kembali kalender sunda yang sempat hilang, diapresiasi para Raja dan Sultan yang hadir. Bahkan hadir juga perwakilan dari Kerajaan Inggris dalam tema acara pelestarian budaya tersebut.

Iklan sevilage

Penggiat Budaya Bestdaya, Miranda H Wihardja mengatakan, Pabaru Sunda adalah pergantian tahun dalam kalender Kala Sunda. Perayaan ini selalu dilakukan sebuah perayaan bagi masyarakat sunda tentunya untuk memperlihatkan rasa syukur kepada sang pencipta terhadap waktu yang telah dilalui, waktu yang sedang dijalani juga waktu yang akan datang.

Baca Juga
Dukung Semangat Belajar di Tahun Ajaran Baru, PLN Hadirkan Promo Tambah Daya Diskon 50%
Berita · Berita terkait

“Ketika sekelompok masyarakat yang menghuni suatu wilayah mampu menciptakan sistem yang menata dan menandai waktu, maka hal ini diartikan bahwa di dalam kelompok masyarakat sebelumnya sudah ada serangkaian aktivitas atau kegiatan yang membutuhkan penandaan waktu,” ungkapnya kepada CIANJURUPDATE.COM, Minggu (19/08/2018).

Menurutnya, secara tidak langsung bisa disimpulkan bahwa kelompok masyarakat ini (Sunda, red) sudah sampai pada sebuah puncak peradaban pemahaman akan perlunya membagi dan menandai waktu untuk berkegiatan.

“Uraian mengenai kalender yang dituangkan adanya sistem penanggalan dalam sebuah masyarakat, menunjukkan bukti untuk mengukur derajat peradabannya, sedangkan ketelitian dalam sistem penanggalan tersebut memperlihatkan ukuran ketinggian daya pikir atau intelektual suatu masyarakat” jelas Miranda.

Penemuan kembali atau refinding Kala Sunda, oleh ali Sastramidjaja, kata Miranda, sangat berpengaruh terhadap penanggalan sejarah atau pun rekonstruksi sejarah.

Baca Juga
Sempat Hilang dan Tenggelam di Sungai Cilaku, Bocah 6 Tahun Ditemukan Meninggal Dunia
Berita · Berita terkait

“Peringatan dan Perayaan Pabaru Sunda ini dilandasi oleh adanya urgensi untuk menyebarkan kembali Sistem Penanggalan Kalender Sunda yang telah hilang selama 500 tahun,” bebernya.

Dia menyebutkan, ciri khas dari Pabaru Sunda ini adalah panganan khasnya yaitu ketan hitam dan ketan putih. Terdapat 12 jenis makanan yang diperkenalkan, di antaranya lima makanan berdasarkan hari pasar, tujuh makanan berdasarkan hari yang tujuh, kemidian 12 bulan maknanya, maka menjadi Paraketan.

“Maknanya merekatkan setiap insan manusia yang mau memahami Sistem Penanggalan Kalender Sunda,” sambung Miranda.

Selain itu, disampaikan dia, kalender sunda berangkat dari adanya kebutuhan juga untuk memanfaatkan kembali sistem penanggalan oleh masyarakat yang mencakup seluruh aspek-aspek kehidupan manusia.

Baca Juga
Sumur Gali Milik RM Alam Sunda Nyaris Telan Korban, Pria di Cipanas Jatuh Hingga Alami Luka Serius
Berita · Berita terkait

“Semoga Peringatan dan Perayaan Pabaru Sunda Tahun 1955 Çaka Sunda (Hurang Tembey) menjadi ajang pelestarian dan pengembangan kearifan budaya lokal yang Cerdas Berbudaya,” jelasnya.

Sementara itu, wakil bupati Kabupaten Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan (Sultan purnama agung) mengapresiasi apa yang dilakukan oleh bestdaya. Menurutnya, peluncuran kalender caka sunda ini juga penyambung napak tilas peradaban dunia yang selama ini menjadi misteri dan perlu digali.

“Hubungan dengan Kabupaten Limapuluh Kota, poros peradaban juga menambah pembuktian jejak sejarah peradaban yang kait berkait,” kata dia.

Dia menambakan, kehadiran para raja dan sultan juga merupakan bentuk dan upaya pelestarian kearifan lokal. Maka dari itu, dirinya mengobarkan semangat eksplorasi kebudayaan di nusantara yang belum tergali.(RIZ)

QRIS Cianjur Update

Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur

Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.

PT Inti Media Cianjur QRIS didukung GoPay, OVO, Dana, dan semua bank
Penulis: Indra Arfiandi | Editor: Redaksi
Preferensi Sumber Google
🎉 Selamat HUT ke-349 Cianjur Lihat Semua →
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
×
{