Soal Konflik Antarpelajar di Cianjur, Pemda Dorong Kolaborasi Semua Lini
CIANJURUPDATE.COM – Pemerintah Kabupaten Cianjur bersama Dinas Pendidikan Jawa Barat, perwakilan sekolah SMK, alumni, dan sejumlah pihak terkait menggelar musyawarah penyelesaian konflik antarpelajar di Aula Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Selasa (11/8/2026).
Musyawarah tersebut digelar sebagai upaya meredam potensi konflik antarpelajar yang terjadi Senin (10/8) sekaligus memastikan lingkungan pendidikan di Kabupaten Cianjur tetap aman, nyaman, dan kondusif.
Bupati Cianjur M Wahyu Ferdian mengatakan, pemerintah daerah bersama seluruh elemen pendidikan berupaya mencegah terjadinya kembali aksi kekerasan antarpelajar.

Menurutnya, perbedaan identitas sekolah tidak boleh menjadi alasan munculnya permusuhan di antara para siswa.
“Kami ingin agar suasana pendidikan dan juga di Kabupaten Cianjur, masyarakat itu bisa berjalan aman, nyaman, tertib,” ujar Wahyu.
Ia menegaskan, pemerintah tidak ingin adanya perbedaan pandangan yang berkembang di kalangan pelajar hingga memicu konflik yang lebih besar.
Karena itu, seluruh pihak, termasuk sekolah, alumni, orang tua, dan siswa, diminta bersama-sama memfokuskan perhatian pada pendidikan serta pembentukan karakter.
“Kami ingin betul-betul fokus terhadap pendidikan dan juga pengembangan karakter anak-anak kita, dan menghindarkan dari segala bentuk kekerasan, baik itu verbal maupun fisik,” katanya.
Wahyu juga menyatakan dukungannya terhadap langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam melakukan pembinaan dan peningkatan kedisiplinan terhadap pelajar yang terlibat dalam konflik.
Setelah proses pembinaan tersebut, Pemkab Cianjur berencana menggelar berbagai kegiatan bersama antarpelajar, mulai dari bakti sosial, bakti lingkungan hingga kegiatan keagamaan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun kembali hubungan antarpelajar sekaligus menumbuhkan rasa persaudaraan.
“Seluruh warga Cianjur, seluruh siswa Cianjur adalah satu saudara,” tegasnya.
Wahyu menambahkan, perdamaian antarsekolah tidak boleh berhenti pada kesepakatan formal. Pemerintah daerah akan mendorong agar hubungan antarpelajar benar-benar terbangun dalam kehidupan sehari-hari.
Ia meminta para siswa meninggalkan ego kelompok maupun ego sekolah dan mulai membangun semangat kolaborasi.
“Sudah tidak zamannya berkompetisi, tapi sekarang zamannya kolaborasi. Dan kami akan menjadi katalis untuk hal tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Jawa Barat, Dr. Nonong Winarni, mengatakan pihaknya akan memperkuat pengawasan terhadap seluruh sekolah di Kabupaten Cianjur untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Pengawasan akan dilakukan melalui para pengawas sekolah, sekaligus memperkuat pembinaan yang dilakukan masing-masing kepala sekolah terhadap peserta didik.
Selain itu, komunikasi antara sekolah dan orang tua siswa juga akan ditingkatkan. Menurut Nonong, pembinaan terhadap pelajar membutuhkan keterlibatan bersama antara pihak sekolah dan keluarga.
“Ini kami pikir sangat penting karena komunikasi dengan orang tua, terkait dengan pembinaan ini, menjadi hal yang berimbang. Ada peran orang tua, ada peran sekolah,” katanya.
CDK Wilayah VI juga akan memperbanyak koordinasi dengan aparat setempat, termasuk kepolisian dan pemerintah daerah.
Terkait rencana kegiatan bersama antarsekolah, Nonong menyambut baik gagasan tersebut. Bentuk kegiatan nantinya dapat berupa jambore, kemah bersama, olahraga, kegiatan sosial maupun kegiatan keagamaan.
“Bentuknya nanti belum kita rumuskan, tapi saya sangat setuju dengan yang disampaikan oleh Pak Bupati Cianjur terkait kegiatan-kegiatan bersama antar satu sekolah dengan sekolah yang lainnya ini akan diperbanyak,” ujarnya.
Menurutnya, semakin banyak kegiatan positif yang mempertemukan pelajar dari berbagai sekolah, diharapkan semakin kuat pula rasa kebersamaan dan persaudaraan di antara mereka.
Di sisi lain, Nonong menyebut pihaknya tetap akan melakukan investigasi apabila ditemukan adanya dugaan kelalaian sekolah dalam melakukan pembinaan terhadap siswa.
“Jika memang benar ditemukan kelalaian pihak sekolah dan lain-lain, bukan tidak mungkin ada sanksi-sanksi yang akan kita berikan,” katanya.
Namun, untuk musyawarah yang digelar pada Selasa hari ini, Nonong menegaskan tidak ada pemberian sanksi.
Pertemuan tersebut lebih diarahkan untuk menyelesaikan persoalan dan membangun kembali suasana damai sesuai harapan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemkab Cianjur.
“Tugas siswa bukan untuk memiliki perilaku seperti itu. Tugas siswa adalah untuk belajar, kemudian belajar bersopan santun, belajar menghormati dan menghargai orang lain,” tuturnya.
Terkait sejumlah pelajar yang sebelumnya diamankan, Nonong mengatakan mereka untuk sementara diserahkan kepada pihak kepolisian. Selanjutnya, penanganan akan diserahkan kepada pihak sekolah sesuai kewenangan masing-masing.
Ia berharap proses pembinaan yang telah direncanakan dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki perilaku dan membangun kembali karakter para pelajar.***
Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur
Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.


