Pedagang Manisan dan Buah Tangan Khas Cianjur Lesu saat Momen Lebaran 2026
CIANJURUPDATE.COM — Riuh rendah arus mudik lebaran tahun ini ternyata tak lantas membawa angin segar bagi para perajin dan pedagang manisan di Cianjur. Di sepanjang koridor Jalan Dr. Muwardi (Bypass) yang biasanya menjadi magnet bagi pemburu buah tangan, geliat transaksi justru terpantau lesu.
Tradisi membawa “buah tangan” manis sepulang kampung tampaknya mulai terkikis oleh pergeseran daya beli dan ketatnya kompetisi.
Alfan Samudra (22), seorang pegawai toko manisan di kawasan tersebut, tak kuasa menyembunyikan kekecewaannya. Ia mencatat adanya perbedaan kontras antara atmosfer Lebaran tahun ini dengan periode-periode sebelumnya.

“Manisan di momen Lebaran sekarang sepi,” keluh Alfan saat ditemui di sela aktivitasnya, Rabu (25/3/2026).
Meski volume pembeli menyusut, beberapa varian manisan tetap bertahan sebagai primadona di mata pelanggan yang datang. Manisan basah masih mendominasi selera pasar dibandingkan varian kering. Buah-buahan seperti salak, mangga, hingga anggur Bogor jenis canar tetap menjadi incaran utama bagi mereka yang masih setia menjaga tradisi oleh-oleh Cianjur.
“Ada salak, mangga, sama anggur juga. Anggur Bogor, namanya anggur canar, ada juga kedondong Bangkok juga, dan lain-lain lah banyak segala macam,” jelas Alfan.
Dari sisi harga, komoditas ini memiliki rentang yang cukup lebar, manisan basah seperti mangga dan salak dibanderol Rp60 ribu perkilogram sedangkan anggur Bogor dan kedondong Bangkok mencapai Rp80 ribu perkilogram. Manisan kering dijual lebih tinggi di kisaran Rp80 ribu hingga Rp160 ribu perkilogramnya, tergantung kerumitan proses dan jenis buahnya.
“Yang paling laris itu manisan basah, di manisan Mangga Salak, dan Anggur Bogor sih biasanya untuk sekarang,” tambahnya.
Angka-angka yang dipaparkan Alfan memberikan gambaran suram mengenai kondisi ekonomi pedagang kecil saat ini. Penurunan pendapatan bukan lagi sekadar fluktuasi, melainkan merosot tajam hingga titik yang mengkhawatirkan.
“Omset sekarang sepi, 1 jutaan aja. Kalau tahun sebelum-sebelumnya kurang lebih Rp7 juta. Nggak tentu sih,” ungkapnya membandingkan masa kejayaan toko dengan kondisi terkini.
Realita di hari biasa bahkan lebih pahit, di mana pendapatan seringkali hanya menyentuh angka ratusan ribu rupiah. “Kalau hari biasa ya, kadang-kadang cuma ratusan ribu. Mungkin Rp500 ribuan,” kata dia.
Menurunnya tren penjualan ini bukan tanpa sebab. Alfan menengarai bahwa menjamurnya pedagang serupa di kawasan Bypass membuat “kue” pasar semakin terbagi kecil. Margin keuntungan yang tipis dan beban operasional bahkan telah memaksa beberapa rekan seprofesinya gulung tikar.
“Sekarang sepi karena banyak saingan, di sini aja (Bypass) yang jualan banyak kan. Nah ada juga yang tutup juga karena penjualan kurang,” pungkasnya.
Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur
Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.


