Gagas Ruang Dialog Inklusif, YAG Cianjur Ajak Puluhan Pemuda Rawat Kebebasan Sipil Lewat Kolaborasi
Isu penyempitan ruang kebebasan sipil dan tantangan demokrasi terus menjadi diskursus penting yang tak lekang oleh waktu, khususnya bagi kelompok muda. Kesadaran kritis ini terus bergaung dan dihidupkan pasca-perhelatan "Ruang Dialog Kabupaten Cianjur 2026" yang diinisiasi oleh Youth Advisory Group (YAG) Cianjur bersama Komunitas Stonheng, Imparsial, serta berbagai organisasi masyarakat sipil lainnya.
Mengusung tema besar "Di Tengah Ruang yang Menyempit, Merawat Harapan Generasi Muda dalam Krisis Demokrasi", kegiatan ini memantik diskursus yang relevansinya masih terus dikawal oleh puluhan pesertanya hingga hari ini.
Diketahui, dialog ini menghadirkan narasumber yang mumpuni di bidangnya, antara lain Akademisi Universitas Suryakancana Cianjur Dr. Aji Mulyana S.H., M.H, Ketua Umum YAG Cianjur Detyani Aulia Malik, dan Peneliti Imparsial Wira Piliang S.IP, serta dipandu oleh moderator Annisa Amalia Azzahra S.H.

Digelar di Kopitarium Cafe Cianjur pada 1 Agustus lalu, forum ini membuktikan bahwa anak muda tidak apatis. Puluhan peserta yang hadir terdiri atas pekerja muda, pelajar, organisasi orang muda, dan berbagai perwakilan komunitas,tampil aktif membedah realitas sosial-politik saat ini.
Perwakilan YAG, Dewi Kania, merefleksikan bahwa esensi dari merawat demokrasi adalah menjaga inklusivitas dan kolaborasi, bukan ajang untuk saling mendominasi wacana.
"Ruang kebebasan sipil menurut kami adalah ruang untuk semua elemen tidak terlepas dari apa yang dikenakan. Ruang berekspresi dan berpendapat bukan untuk mencari mana yang paling benar atau mana yang paling salah, melainkan untuk sama-sama belajar dari benar dan salah," tegas Dewi.
Ia menambahkan bahwa aksi nyata dalam merawat iklim sipil yang sehat selalu lahir dari kolaborasi yang kuat.
"Mengutip pesan KH. Ahmad Dahlan: hidupilah organisasi, bukan hidup dari organisasi," imbuhnya, menekankan pentingnya dedikasi tulus dari para pemuda dalam berorganisasi.
Daya kritis peserta dalam merespons krisis demokrasi ini juga mendapat apresiasi khusus. Founder Komunitas Stonheng, Nadif Muhammad Hasan, menyoroti bagaimana anak muda dari jenjang SMA hingga pekerja telah memiliki kematangan dalam membedah isu.
"Hebatnya anak muda jenjang SMA sampai pekerja muda bahkan bisa memberikan pendapat dan membedakan tanggapan yang baik dan yang kurang baik secara apa yang mereka lihat dari isu yang diangkat," ungkap Nadif.
Meski demikian, di era banjir informasi saat ini, Nadif memberikan catatan kritis yang terus relevan sebagai bekal para pemuda ke depannya.
"Perlu digarisbawahi bahwasannya kita juga harus bijak dalam memilah dan memilih tanggapan dan informasi yang beredar. Karena belum tentu yang kita lihat itu benar, dan belum tentu yang kita dengar itu salah. Maka, jadilah manusia yang bijak," pesannya.
Lebih dari sekadar acara seremonial, Ruang Dialog Kabupaten Cianjur 2026 telah menjadi monumen kesadaran bagi anak muda setempat. Kegiatan ini menanamkan pesan fundamental bahwa di tengah ruang gerak yang mungkin terasa menyempit, memperkuat kolaborasi adalah satu-satunya cara untuk terus menumbuhkan harapan.
Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur
Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.


