Harga Bahan Baku Naik, Omzet Pedagang Bunga di TMP Cianjur Turun Drastis
CIANJURUPDATE.COM – Riuh rendah peziarah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cianjur pada momen Idulfitri 1447 H ternyata tidak berbanding lurus dengan pundi-pundi para pedagang bunga musiman. Di balik tradisi nyekar yang masih terjaga, terselip kisah perjuangan para pedagang kecil yang harus bertahan di tengah gempuran kenaikan modal dan ketatnya persaingan.
Puji Astuti (68), salah satu wajah lama di pelataran TMP Cianjur, merasakan betul perubahan angin niaga tahun ini. Baginya, Lebaran kali ini terasa lebih sunyi bagi kantongnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau sekarang mah sepi, tidak seperti dulu. Ada pembeli, tapi tidak seramai sebelumnya,” ungkap dia, Sabtu (21/3/2026).

Puji menjual bunga tabur dalam kemasan kantong plastik dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000 per kantong. Namun, harga tersebut bak buah simalakama. Di satu sisi, ia tak berani menaikkan harga karena takut kehilangan pelanggan, namun di sisi lain, margin keuntungan yang didapat kian menipis.
“Satu kantong Rp5.000, itu juga sudah tipis keuntungannya. Kalau dinaikkan, takut tidak laku,” keluhnya.
Keresahan Puji bukan tanpa alasan. Ia memaparkan adanya lonjakan signifikan pada harga bahan baku. Daun pandan yang semula hanya Rp5.000 per kilogram kini melonjak dua kali lipat menjadi Rp10.000. Sementara itu, bunga rampai menyentuh angka Rp100.000 per kilogram. Kondisi ini kian menyulitkan karena Puji tidak memiliki kebun sendiri.
“Kita juga tidak nanam sendiri, jadi harus beli. Harga bahan baku naik semua,” tambahnya.
Dahulu, dalam satu hari di momen Lebaran, Puji bisa mengantongi pendapatan hingga Rp2 juta. Kini, angka tersebut menjadi target yang sulit diraih. Saat ini, omzet dari penjualan bunga tabur hanya berkisar di angka Rp1 juta. Ia harus menyambi berjualan minuman agar bisa membawa pulang uang sekitar Rp1,5 juta.
“Kalau sekarang paling Rp1 juta untuk bunga, kalau ditambah minuman bisa Rp1,5 juta. Dulu pernah sampai Rp2 juta,” kenangnya.
Selain faktor harga bahan baku, Puji menilai menjamurnya pedagang baru di kawasan makam khusus tersebut menjadi faktor utama menurunnya pendapatan. Jika dulu ia melayani peziarah tanpa saingan, kini pemandangan berbeda terlihat di sepanjang jalan menuju makam.
“Sekarang saingan banyak. Dulu mah di sini cuma saya sendiri, karena ini makam khusus. Sekarang sudah banyak yang jualan,” tutur Puji.
Meski terjepit keadaan, semangat Puji tidak surut. Ia berencana tetap menggelar dagangannya hingga beberapa hari ke depan, memanfaatkan sisa-sisa momentum libur Lebaran.
“Biasanya ramai itu dari jam 09.00 WIB, sampai jam 12.00 WIB. Saya jualan sampai H+4 Lebaran,” pungkasnya.***
Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur
Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.


