Tekan Enter untuk mencari · Esc untuk menutup

Cianjur Update
Cianjur Update
Home Berita Nasional & Regional Pendidikan Bisnis & UMKM Olahraga Gaya Hidup Hiburan Otomotif Tips dan Tutorial Teknologi & Gadget
Masuk

PT Inti Media Cianjur | Cianjur Update

Berita

Mengenal Tradisi di Pameungpeuk Cianjur yang Masih Dipertahankan

Terbit 7 Feb 2020 05:16 WIB · 1 menit dibaca
Bagikan
Mengenal Tradisi di Pameungpeuk Cianjur yang Masih Dipertahankan — Cianjur Update

CIANJURUPDATE.COM, Cugenang – Surian menjadi tradisi yang dilakukan masyarakat di Kampung Pameungpeuk, Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur saat pernikahan. Tradisi ini masih dipertahankan sampai saat ini

Sekretaris Desa Cijedil, Ayi, mengatakan tradisi ini merupakan adat istiadat yang mana sepasang calon mempelai diharuskan membawa suri. Benda ini berupa alat tenun tadisional untuk membuat kain yang bentuknya yang kecil.

Suri digunakan sebagai simbol saksi leluhur dan menjadi syarat perkawinan kedua mempelai. Tradisi itu berlaku pada siapa saja yang mempunyai calon pasangan warga keturunan Kampung Pameungpeuk.

“Jika tidak memiliki suri, tokoh masyarakat setempat akan meminjamkannya sampai selesai prosesi syukuran pernikahan.” tutur Ayi kepada Cianjur Update, baru-baru ini.

BACA JUGA: Jelang Musda, Metty Triantika Siap Pimpin DPD Golkar Cianjur, Pendukung Nilai Rekam Jejak Lengkap

Pintu Rumah

Ia mengatakan, selain tradisi suri, masyarakat Kampung Pameungpeuk mempunyai adat istiadat lain. Yaitu mendirikan bangunan dengan pintu rumah menghadap arah barat atau timur.

Hal itu, konon katanya, dari petuah orang tua terdahulu. Dimana pada umumnya secara turun temurun harus dipatuhi warga kampung Pameungpeuk.

Jika berani melanggarnya, cerita Ayi, akan kena apes atau sial. Misal, bila berumah tangga tidak akan menemui ketentraman dan kebahagian dalam hidup.

“Begitu juga dengan larangan terhadap arah pintu rumah. Jika dilanggarnya, dipercaya akan mendapat kesulitan dalam mencari nafkah, rentan sakit-sakitan dan halangan lainnya,” tuturnya.

BACA JUGA: Polisi Amankan Enam Pelajar dan Satu Alumni Terkait Video Viral Perkelahian Satu Lawan Satu di Cianjur

Tradisi itu, menurut sejumlah warga disana, berkaitan dengan leluhur Ki Gede dan Mbah Jongor yang disegani dan dihormati sebagai panutan untuk warga Kampung Pameungpeuk.

Konon, Eyang Natadiwangsa pada saat mudanya sempat berebut suri dengan saudaranya dari Kampung Munjul Desa Gasol. Kemudian Eyang Natadiwangsa, pulang kampung dengan membawa hasil dan menjadi juragan kaya raya, disegani dan dihormati. Dia pun akhirnya dikenallah dengan sebutan Ki Gede.

Legenda lokal perjalanan Ki Gede menuju keberhasilan oleh keturunannya menjadi sebuah panutan. Kebiasaan membawa Suri dalam prosesi pernikahan, menjadi suah adat tradisi hingga kini masih dipertahankan.

Sebagai tanda hormat kepada leluhur, maka warga setempat yang berada di antara maqom Ki Gede di utara dan maqom Mbah Jongor di selatan kampung Pameungpeuk. pintu rumah warga menghadap ke timur dan barat, lantaran tak mau membelakangi leluhurnya. (ct6/rez)

Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Geser ›