Tekan Enter untuk mencari · Esc untuk menutup

Cianjur Update
Beranda Berita Nasional & Regional Pendidikan Bisnis & UMKM Olahraga Gaya Hidup Hiburan Otomotif Tips dan Tutorial Teknologi & Gadget Tentang Kami Kontak
Berita

Di Balik Meriahnya Kirab Budaya Cianjur, Ada Suara yang Nyaris Tak Terdengar

Terbit 6 May 2026 15:39 WIB · 2 menit dibaca
Bagikan
Di Balik Meriahnya Kirab Budaya Cianjur, Ada Suara yang Nyaris Tak Terdengar — Cianjur Update
Seorang pria mengenakan jaket oranye terlihat digendong pundak oleh rekannya di tengah kerumunan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Cianjur, Rabu malam (6/5/2026). Di balik kemeriahan acara, tersimpan kisah perjuangan penyandang disabilitas yang berharap perhatian. Foto: Fauzi/CianjurUpdate

CIANJURUPDATE.COM – Malam perayaan Milangkala Tatar Sunda pada Rabu, 6 Mei 2026, di Kabupaten Cianjur berlangsung semarak. Sepanjang jalan kota dipadati warga, sorak-sorai menggema, dan kirab budaya bertajuk “Nyuhun Buhun, Nata Nagara, Binokasih Mulang Salaka” menjadi panggung kebanggaan tradisi Sunda.

Di tengah gemerlap acara, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampil gagah menunggang kuda, diikuti iring-iringan pejabat, termasuk Bupati Cianjur. Wajah anak-anak tampak berseri, sebagian digendong orang tuanya agar bisa menyaksikan kirab dengan lebih jelas. Malam itu menjadi perayaan tentang identitas, warisan budaya, dan kebersamaan.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada cerita lain yang nyaris luput dari perhatian.

Iklan sevilage

Di pinggir jalan, di antara kerumunan, berdiri Gofur. Ia bukan pejabat, bukan tokoh penting, dan bahkan bukan bagian dari panitia. Ia hanya seorang kurir pengantar paket Shopee. Jaket oranye yang dikenakannya menjadi identitas sekaligus simbol kerasnya perjuangan hidup.

Gofur tampak tertawa bersama rekan-rekannya. Ia terlihat antusias, seolah tanpa beban. Namun di balik senyumnya, tersimpan harapan sederhana yang justru terasa berat.

Baca Juga
BPIP Bentuk Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila di Cianjur, Tekankan Penguatan Moral
Berita · Berita terkait

Gofur merupakan penyandang disabilitas. Kaki kanan dan tangan kirinya tidak berfungsi normal. Namun, itu tidak menghentikannya. Sudah tiga bulan terakhir, sejak Februari, ia bekerja sebagai kurir. Dengan motor biasa, tanpa modifikasi, hanya mengandalkan rem depan, ia menempuh perjalanan dari Cibeber ke pusat kota Cianjur setiap hari.

“Kalau ada peluang, kenapa tidak saya ambil,” katanya.

Kalimat itu terdengar ringan. Tapi sesungguhnya, itu adalah bentuk perlawanan terhadap keterbatasan, terhadap stigma, dan terhadap sistem yang belum sepenuhnya memberi ruang.

Ironisnya, di acara sebesar ini, Gofur mengaku tidak pernah mendapat akses informasi yang memadai. Tidak ada ruang khusus bagi penyandang disabilitas untuk menikmati kirab. Tidak ada undangan. Tidak ada fasilitas. Bahkan sekadar tempat menonton yang layak pun tak disediakan.

Ia datang bukan karena diundang, tapi karena ingin merasakan menjadi bagian dari perayaan yang seharusnya milik semua orang.

Baca Juga
Sumur Gali Milik RM Alam Sunda Nyaris Telan Korban, Pria di Cipanas Jatuh Hingga Alami Luka Serius
Berita · Berita terkait

Dan di sinilah letak persoalannya.

Kita sering berbicara tentang budaya sebagai identitas bersama. Kita bangga pada nilai-nilai gotong royong, inklusivitas, dan kemanusiaan yang menjadi ruh masyarakat Sunda. Namun ketika perayaan berlangsung, apakah semua benar-benar dilibatkan?

Atau justru, tanpa disadari, ada yang tertinggal di pinggir jalan,menonton dari kejauhan, tanpa benar-benar diikutsertakan?

Kirab budaya bukan hanya soal estetika dan kemegahan. Ia adalah cermin dari bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan warganya. Termasuk mereka yang hidup dengan keterbatasan fisik.

Harapan Gofur sebenarnya tidak muluk,Ia hanya ingin diperhatikan.

Baca Juga
Prestasi Pramuka Garuda di SMKN 1 Cianjur, Lima Siswa Dikukuhkan
Berita · Berita terkait

“Harapan saya, pemerintah lebih mengutamakan disabilitas, agar lebih termotivasi seperti saya ini.”

Kalimat itu seharusnya menggema lebih keras daripada tabuhan musik kirab. Karena di situlah letak makna pembangunan yang sesungguhnya bukan sekadar merayakan masa lalu, tetapi memastikan masa depan yang lebih adil dan inklusif.

Malam itu, kirab memang meriah. Tapi pertanyaannya: apakah semua benar-benar ikut merasakan kemeriahan itu?

Atau ada yang hanya berdiri di tepi, menunggu untuk akhirnya dilihat?***

QRIS Cianjur Update

Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur

Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.

PT Inti Media Cianjur QRIS didukung GoPay, OVO, Dana, dan semua bank
Penulis: Fauzi | Editor: Redaksi
Preferensi Sumber Google
🎉 Selamat HUT ke-349 Cianjur Lihat Semua →
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
Iklan HUT Cianjur
×
{