SPPI Cianjur Lakukan Investigasi Soal Dugaan Temuan Belatung Menu MBG SDN Cisarandi
CIANJURUPDATE.COM – Koordinator Wilayah (Korwil) atau SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi) Kabupaten Cianjur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sirojudin menanggapi soal menu MBG yang diduga terdapat belatung di SDN Cisarandi Kecamatan Warungkondang Cianjur.
Menurutnya dugaan menu telur berbelatung di SDN Cisarandi, masih dalam tahap investigasi.
Termasuk berkomunikasi dengan kepala SPPG terkait pun telah dilakukan, namun laporan resmi masih menunggu untuk memastikan duduk persoalan sebenarnya.
BACA JUGA: Menu MBG di SDN Cisarandi 1 Warkon Terdapat Belatung, Guru: Siswa Tak Mau Makan, Jijik!
“Ini masih investigasi karena saya perlu penjelasan dari kepala SPPG dan klarifikasi. Kita lihat dulu apakah memang menu itu telur atau ada menu lain, karena sampai saat ini belum ada laporan resmi dari kepala SPPG,” kata dia.
Sebelumnya, menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Cisarandi 1, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, diwarnai insiden tak sedap.
Pada Selasa (7/4/2026), sejumlah siswa melaporkan adanya temuan belatung hidup dalam paket makanan mereka. Peristiwa ini memicu ketegangan informasi antara pihak sekolah dan penyedia jasa makanan (SPPG).
BACA JUGA: Perketat Pengawasan, SPPG di Cianjur Tak Penuhi Syarat Bakal Kena Suspend
Menurut keterangan salah seorang guru di SDN Cisarandi 1, Didan menyebut bahwa sekolah menerima sebanyak 297 tray menu MBG sekitar pukul 08.00 WIB.
Masalah muncul ketika distribusi dilakukan ke ruang-ruang kelas. Di kelas dua, guru dan siswa dikagetkan dengan kondisi salah satu lauk yang dianggap tak layak konsumsi.
“Menu datang sekitar jam setengah delapan dengan jumlah 297 tray. Untuk menunya memang sama, tapi ada satu yang berbeda yaitu di kelas dua, awalnya dikira daging ternyata telur,” ujar Didan saat dikonfirmasi, Selasa (7/4/2026).
BACA JUGA: Paguyuban Villa Cherry Tolak Pendirian SPPG di Palasari, Soroti Izin dan Dampak Lingkungan
Meski jumlah temuan tidak mendominasi seluruh paket, dampak psikologis terhadap siswa cukup signifikan. Belatung yang ditemukan dalam keadaan hidup membuat para siswa enggan menyentuh jatah makan mereka.
“Kalau dipersentase mungkin kecil, sekitar lima persen. Tapi belatungnya masih hidup, jadi anak-anak pada jijik dan hampir rata-rata tidak dimakan,” tambahnya.
Pihak sekolah mengklaim bahwa masalah higienitas ini bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan catatan sekolah, kualitas kontrol dari penyedia menu MBG dianggap sering kecolongan.
“Bukan sekali dua kali, sebelumnya juga pernah ada temuan seperti sarung tangan, karet, sampai rambut dienu makanan yang diterima,” ungkap Didan.
Beruntung, hingga saat ini belum ada laporan mengenai siswa yang mengalami keracunan atau gangguan kesehatan serius usai mengkonsumsi menu MBG dari SPPG yang mendistribusikan.
Terpisah, Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) Cisarandi 2 selaku penyedia menu, menampik tudingan bahwa belatung tersebut berasal dari dapur mereka.
Asisten Lapangan Dapur SPPG Cisarandi 2, Dedi Supriadi, menegaskan bahwa prosedur operasional standar (SOP) telah dijalankan secara ketat.
Dedi menyoroti adanya kejanggalan pada jenis lauk yang menjadi sumber masalah. Menurutnya, paket yang dikirimkan hari itu tidak menyertakan telur.
“Kami sudah pastikan dari tim dapur, packaging, hingga distribusi, tidak ada menu seperti itu. Bahkan untuk hari ini tidak ada menu telur dari kami,” tegas Dedi.
Ia menduga telur ceplok berisi belatung tersebut berasal dari sumber luar yang masuk ke lingkungan sekolah.
“Yang ditemukan itu bukan di daging, tapi di telur. Sementara dari kami tidak ada menu telur ceplok hari ini, jadi kemungkinan besar itu bukan dari kami,” lanjutnya.
Pihak SPPG juga menyanggah klaim sekolah mengenai jumlah temuan yang mencapai lima persen. Menurut verifikasi lapangan yang mereka lakukan, hanya ditemukan satu sampel yang bermasalah.
Dedi bahkan mengisyaratkan adanya kemungkinan faktor eksternal yang sengaja ingin memperburuk citra layanan mereka.
“Kemungkinan besar ada faktor dari luar, ada sabotase, saya gak bisa menjelaskan dari mana-mananya. Tapi, untuk pastinya kami masih belum bisa memastikan,” pungkas Dedi.***





















