Hari Juang Polri: 67 Polisi Cianjur Kibarkan Merah Putih Sehari Sebelum Proklamasi
CIANJURUPDATE.COM – Peringatan Hari Juang Polri pada Jumat (21/8/2026) menjadi momentum bagi Polres Cianjur untuk mengungkap kembali sejarah perjuangan kepolisian di Kabupaten Cianjur. Salah satu fakta sejarah yang kembali diangkat adalah keberanian 67 anggota polisi di Kantor Resor Tjandjoer yang mengibarkan bendera Merah Putih pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Kapolres Cianjur AKBP A Alexander Yurikho Hadi mengatakan, Hari Juang Polri diperingati setiap 21 Agustus berdasarkan keputusan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo. Momentum tersebut berkaitan dengan deklarasi polisi sebagai bagian dari Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh salah satu tokoh kepolisian, M. Jasin, di Surabaya.
Namun, menurut Alexander, Polres Cianjur memperingati Hari Juang Polri tahun ini dengan mengangkat sejarah perjuangan polisi di Cianjur yang dinilai memiliki nilai penting bagi perjalanan bangsa.

“Pada tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum Proklamasi NKRI, polisi yang bertugas di Kantoor Resor Tjandjoer telah berani, di tengah represi Jepang yang begitu ketat, menurunkan bendera Jepang kemudian mengibarkan bendera Merah Putih,” ujar Alexander.
Peristiwa tersebut, kata dia, dilakukan oleh 67 anggota polisi di kantor yang saat ini menjadi Rumah Sakit Tingkat IV Bhayangkara Polda Jawa Barat.
Alexander menilai keberanian para anggota polisi tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan yang perlu diketahui generasi saat ini.
“Berani, kita berani. Untuk Polri berani, polisi berani. Sebanyak 67 anggota polisi berani mengibarkan bendera Merah Putih yang kemudian menjadi pemicu masyarakat Cianjur untuk menggunakan apa yang ada untuk dijadikan tiang mengibarkan bendera Merah Putih,” katanya.
Untuk memastikan kebenaran sejarah tersebut, Polres Cianjur bersama sejarawan dan masyarakat berencana melakukan penelusuran terhadap 67 anggota polisi yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Alexander mengatakan, pihaknya juga berkomitmen mendokumentasikan sejarah tersebut dalam bentuk buku serta menelusuri keberadaan keluarga para anggota polisi tersebut.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. Kami sangat menghargai para pendahulu kami yang telah dengan sangat berani mengibarkan bendera Merah Putih, bukan hanya untuk Cianjur, tetapi untuk Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, Polres Cianjur berencana berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mendorong pembangunan sebuah tugu di lokasi bersejarah tersebut. Tugu itu diharapkan dapat memuat nama 67 personel Kantoor Resor Tjandjoer yang terlibat dalam pengibaran Merah Putih pada 16 Agustus 1945.
“Keinginan besar kami adalah membuat tugu dan bertahtakan nama 67 personel Kantoor Resor Tjandjoer, agar kita selalu ingat bahwa kita harus berani menghadapi keadaan di tengah ketidakpastian. Kita mengambil semangat dari para pendahulu kita,” tutur Alexander.
Sejarawan Dorong Sejarah Polri Cianjur Masuk Museum Polri
Penulis sejarah Hendi Jo menyambut baik upaya Polres Cianjur untuk menelusuri dan mendokumentasikan sejarah tersebut. Menurutnya, peristiwa pengibaran Merah Putih oleh 67 polisi Cianjur pada 16 Agustus 1945 merupakan fakta sejarah yang perlu segera divalidasi dan dicatat secara resmi.
Hendi mengaku telah menemukan bahwa peristiwa tersebut belum tercatat dalam sejarah Polri secara memadai, termasuk dalam dokumentasi Pusat Sejarah Polri di Mabes Polri.
“Ke depan mungkin lebih baik sebelum pihak Mabes Polri membuat sebuah sejarah nasional mereka, kita harus memberikan dulu sumbangan data kepada mereka dengan memberikan data-data yang terkait dengan sejarah Polri di Cianjur,” kata Hendi.
Ia menilai penelusuran terhadap keluarga 67 anggota polisi tersebut penting dilakukan untuk memperkuat bukti sejarah sekaligus memberikan penghargaan kepada para pejuang.
Hendi juga mendorong agar sejarah perjuangan polisi Cianjur tersebut dapat masuk ke Museum Sejarah Polri di Jakarta.
“Saya pikir ini harus masuk ke museum sejarah Polri yang sekarang sudah berdiri di Jalan Trunojoyo. Ini penting sekali,” ujarnya.
Menurut Hendi, kontribusi polisi Cianjur dalam mempertahankan kemerdekaan tidak berhenti pada pengibaran bendera Merah Putih. Polisi juga terlibat dalam sejumlah pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Cianjur, salah satunya pertempuran melawan pasukan Inggris di Jembatan Cisokan.
Ia menyebut peristiwa tersebut bahkan tercatat dalam sejarah militer Inggris dengan judul The Battle for Ciranjang Gorge, yang menggambarkan perlawanan masyarakat Cianjur, termasuk unsur kepolisian, terhadap pasukan Inggris.
“Hal-hal seperti ini harusnya tidak luput dari kesejarahan kita. Ini akan menimbulkan kepercayaan diri terhadap bangsa kita,” kata Hendi.
Ia berharap pengungkapan sejarah perjuangan Cianjur pada masa awal kemerdekaan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk membangun daerah dengan semangat yang sama seperti para pendahulu.
“Cianjur bukan masyarakat pecundang. Kita merupakan masyarakat yang memiliki sejarah besar dengan terlibat dalam berbagai perlawanan,” pungkasnya.***
Dukung Jurnalisme Lokal Cianjur
Kontribusi Anda membantu kami menghadirkan berita akurat dan independen untuk Cianjur. Scan QRIS — nominal bebas.


