Susu Impor China di Program MBG Disorot, Bupati Cianjur Pastikan Satgas Turun Tangan
CIANJURUPDATE.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima balita dan siswa TK di wilayah Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, menuai sorotan dari sejumlah orang tua penerima manfaat.
Paket makanan yang dibagikan berupa makanan kering, terdiri atas dua bungkus roti, dua butir telur, dua buah jeruk, satu buah pisang, satu bungkus kurma, serta minuman kotak rasa susu ukuran 125 ml.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, menu MBG tersebut dirapel untuk tiga hari, yakni pada 25 hingga 27 Februari 2026. Namun, perhatian publik tertuju pada minuman kemasan rasa susu yang diduga merupakan produk impor dari Jinan City, Shandong Province, China.

Sejumlah orang tua mempertanyakan asal-usul produk tersebut, terlebih program MBG diharapkan dapat memberdayakan produk lokal serta memenuhi standar gizi yang ditetapkan pemerintah.
Menanggapi polemik tersebut, Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Cianjur berperan sebagai pengawas pelaksanaan program melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan berkoordinasi dengan Korwil Badan Gizi Nasional (BGN) di Kabupaten Cianjur.
“Kita dari pemerintah daerah Kabupaten Cianjur berfungsi dalam hal ini sebagai pengawas SPPG dan tentunya berkoordinasi dengan korwil BGN di Kabupaten Cianjur. Kita akan melihat ke lapangan, apabila memang terjadi hal-hal di luar ketentuan, tentunya akan memberikan rekomendasi untuk ditutup sementara. Kemudian setelah evaluasi dan ada perbaikan, akan dilakukan langkah selanjutnya,” ujar Wahyu kepada wartawan pada Jumat (27/2/2026).

Saat ditanya apakah Satuan Tugas (Satgas) MBG akan segera turun tangan, Wahyu memastikan langkah tersebut akan dilakukan, khususnya pada titik-titik SPPG yang dilaporkan bermasalah.
“Iya tentunya, terutama titik-titik SPPG yang dilaporkan ada masalah,” tegasnya.
Terkait isu susu impor asal China di wilayah Nagrak, Wahyu menegaskan pihaknya akan terlebih dahulu memastikan kebenaran informasi tersebut.
“Kita akan mencari dulu kebenarannya. Sampai saat ini kita belum melihat langsung dan tentunya saya akan menugaskan Satgas MBG untuk mengevaluasi,” katanya.
Mengenai regulasi penggunaan bahan pangan dalam program MBG, Wahyu menjelaskan bahwa yang menjadi acuan utama adalah jenis makanan dan kebutuhan gizinya. Sumber bahan pangan, lanjutnya, diutamakan berasal dari daerah sendiri.
“Yang saya tahu mengenai MBG ini adalah jenis makanannya dan kebutuhan gizinya. Untuk sumbernya diutamakan dari daerah sendiri. Tentunya bila tidak mencukupi, mungkin bisa dari daerah lain,” jelasnya.
Pemerintah daerah memastikan akan melakukan pengawasan ketat agar program MBG tetap berjalan sesuai ketentuan dan tujuan utamanya, yakni memenuhi kebutuhan gizi anak-anak secara optimal, termasuk selama bulan Ramadan. ***
Editor: Indra Arfiandi





















