Soroti Banjir Pacet–Cipanas, Aktivis Lingkungan Desak Evaluasi Kawasan Hulu Gunung Gede
CIANJURUPDATE.COM – Banjir yang melanda Kecamatan Pacet, Cigombong, Ciherang hingga sebagian besar wilayah Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, memicu sorotan terhadap kondisi kawasan hulu di sekitar Gunung Gede Pangrango.
Aktivis lingkungan menilai, bencana hidrometeorologi yang berulang di wilayah Utara Cianjur itu diduga berkaitan dengan alih fungsi lahan di kawasan konservasi di kaki Gunung Gede Pangrango.
Ketua komunitas lingkungan Montana, Kang Kawat, menegaskan banjir yang semakin sering terjadi patut dikaji dari sisi perubahan fungsi lahan.
BACA JUGA: Banjir Bandang Terjang Batulawang Cipanas, 15 Rumah Warga Terdampak
Menurutnya, tutupan hutan yang berubah menjadi lahan pertanian terbuka mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan dan meningkatkan risiko banjir bandang di wilayah hilir.
“Banjir di Pacet, Cigombong, Ciherang sampai Kecamatan Cipanas diduga kuat akibat perubahan fungsi kawasan di wilayah atas Gunung Gede. Alih fungsi lahan terjadi cukup signifikan dan berdampak pada lingkungan,” ujar Kang Kawat, kepada wartawan, Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan, kawasan hulu yang sebelumnya berupa hutan kini diduga banyak dibuka menjadi lahan pertanian. Kondisi ini membuat air hujan tidak terserap optimal, sehingga aliran permukaan langsung mengarah ke permukiman warga di bawah.
BACA JUGA: Pemkab Cianjur Mulai Normalisasi Saluran Air yang Menyempit Pasca Banjir di Cibeber
Komunitas Montana, lanjutnya, aktif memberikan edukasi kepada masyarakat di wilayah atas seperti Sukatani dan Gunung Putri mengenai dampak kerusakan hulu terhadap hilir.
Selain itu, Kang Kawat menilai aktivitas pertanian di kaki Gunung Gede Pangrango semakin mendekati bahkan masuk ke area konservasi. Ia mendorong pengembalian fungsi kawasan melalui penghijauan dan perlindungan hutan dari penebangan liar maupun pembukaan lahan tanpa pengawasan.
“Kawasan konservasi harus kembali menjadi hutan, bukan lahan pertanian. Pohon harus tetap dijaga baik,” tegasnya.
BACA JUGA: Pascabanjir Cibeber Cianjur, Ular Sanca dan Biawak Masuk Permukiman Warga
Ia juga menyoroti perkembangan pariwisata pendakian yang dinilai perlu dikelola lebih ketat agar tidak mempercepat kerusakan hutan. Menurutnya, jalur pendakian kini mengalami kerusakan cukup parah sehingga mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan.
Para aktivis lingkungan berharap pemerintah daerah, aparat kehutanan, dan pengelola kawasan konservasi Gunung Gede Pangrango segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perubahan fungsi lahan di kawasan hulu.
Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kerusakan ekosistem pegunungan sekaligus mengurangi risiko banjir bandang di wilayah Pacet–Cipanas pada masa mendatang.
BACA JUGA: Dramatis! BPBD Cianjur Evakuasi Keluarga Asal Bandung yang Terjebak Banjir di Cibeber
Sementara itu, seorang petani berinisial AD (60) di Wilayah Kecamatan Pacet mengaku merasakan perubahan pola aliran air dari kawasan atas dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut air hujan kini mengalir lebih cepat dan deras dibandingkan dulu ketika vegetasi masih menahan aliran.
“Sekarang air dari atas langsung turun ketika hujan deras. Dulu masih tertahan, sekarang tidak. Akibatnya kebun di bawah sering rusak,” ungkap AD.***





















