Jabar Perluas Peran Strategis Energi Bersih Nasional Melalui Potensi Panas Bumi Terbesar Dunia
CIANJURUPDATE.COM – Di tengah dorongan global menuju energi bersih, Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pemilik potensi panas bumi terbesar di dunia, mencapai 27,3 gigawatt (GW).
Salah satu langkah nyatanya ialah melalui proyek pengembangan energi panas bumi di Kabupaten Cianjur oleh PT Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP).
Proyek PLTP Cipanas oleh PT Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP) merupakan bagian dari strategi kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan.
BACA JUGA: PGEO jadi Pelopor Utama Industri Energi Panas Bumi Indonesia, Budhy Setiawan: Perlu Dipertahankan
Dalam operasionalnya, pengembang menerapkan standar keselamatan ketat, kepatuhan terhadap regulasi, serta pemeliharaan ekosistem di sekitar wilayah kerja. Pengembangan ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memastikan terciptanya nilai tambah ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat Kabupaten Cianjur.
Untuk menjawab berbagai kekhawatiran publik, sejumlah pakar memberikan penjelasan. Pakar Vulkanologi Universitas Padjadjaran, Prof. Nana Sulaksana, menegaskan bahwa aktivitas panas bumi tidak memengaruhi stabilitas gunung maupun kawasan sekitarnya, termasuk risiko longsor.
BACA JUGA: Aliansi Masyarakat Cipanas Desak Penghentian Total Proyek Geothermal: Ini Masuk Kawasan Konservasi
“Pada dasarnya, longsor adalah proses alami akibat pergerakan material dari tempat tinggi ke rendah karena gravitasi, dan bisa terjadi di mana saja, termasuk di wilayah gunung api. Namun, dalam kegiatan panas bumi, seluruh proses seperti pembukaan lahan hingga pengeboran dilakukan dengan perhitungan geoteknik yang matang, sehingga kestabilan lereng tetap terjaga,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengambilan uap panas bumi tidak mengganggu struktur utama gunung.
“Kegiatan ini hanya menggunakan sumur berdiameter kecil yang diperkuat pipa baja dan semen, tanpa penggalian besar. Struktur gunung tetap aman dan stabil. Lokasi proyek pun dipilih berdasarkan kajian geologi untuk menghindari area rawan longsor,” ujarnya.
Senada, Pakar Geologi Universitas Padjadjaran, Dr. Dewi Gentana, memastikan bahwa aktivitas ini juga tidak memicu gempa maupun mengganggu sumber air masyarakat. “Air yang digunakan berada di kedalaman sekitar 2.000 meter, jauh dari sumber air warga, sehingga tidak saling mempengaruhi,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa tidak adanya proses pembakaran membuat kualitas udara tetap terjaga, sehingga aktivitas pertanian tetap berjalan normal.
Keberlanjutan dan Bukti di Lapangan
Dari sisi operasional, DMGP menerapkan sistem reinjeksi, yaitu mengembalikan air ke dalam bumi setelah digunakan untuk menjaga keseimbangan alami. Praktik ini bukan hal baru dan telah terbukti berhasil di Kamojang, Jawa Barat, yang selama puluhan tahun menunjukkan bahwa pembangkit panas bumi dapat berdampingan dengan lingkungan dan aktivitas pertanian.
Selain aspek teknis, DMGP juga menaruh perhatian pada masyarakat sekitar. Berbagai program sosial telah dijalankan selama tiga bulan terakhir, mulai dari renovasi fasilitas umum di Desa Cipendawa, dukungan untuk tempat ibadah di Pasir Cina dan Desa Sukatani, serta berbagai bantuan sosial seperti penyediaan konsumsi bagi Pesantren Kampung Loji di Desa Cipanas, santunan anak yatim di Desa Sukatani, dan bantuan bagi lansia di Desa Cipendawa.
Kepala Teknik Panas Bumi DMGP, Yunis, menyampaikan bahwa keberhasilan proyek tidak hanya dilihat dari sisi energi.
BACA JUGA: Geruduk Pendopo Cianjur, Ribuan Masa Tagih Janji Bupati Tolak Geothermal Tanpa Kompromi
“Berbagai program sosial telah kami jalankan, mulai dari renovasi fasilitas umum, dukungan untuk tempat ibadah, hingga bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan. Kami ingin kehadiran proyek ini juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, kami berupaya untuk tumbuh bersama,” ujarnya.
Melalui kombinasi teknologi, kepedulian lingkungan, dan kolaborasi dengan masyarakat, pengembangan panas bumi di Cianjur diharapkan menjadi langkah konkret menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.***





















