Warga Keluhkan Dugaan Pencemaran Lingkungan Dapur MBG Sukasari Cilaku
CIANJURUPDATE.COM – Warga Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, mengeluhkan kondisi di sekitar tempat tinggalnya yang diduga terdapat pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah Dapur SPPG Cilaku Sukasari 3 di Jalan KH. Muhammad Syuja’i KM 9.
Salah seorang warga bernama Mira menyampaikan bahwa air kolam dan sumur di kediamannya telah tercemar dan menimbulkan bau tidak sedap.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan imbas dari pembuangan limbah aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berada di dekat rumahnya.
BACA JUGA: Warga Soroti Porsi Menu MBG di Ciherang Pacet yang Dirapel Tiga Hari: Ini Sesuai Anggaran?
“Sejak ada dapur MBG di sebelah rumah, air kolam jadi tercemar bau cubluk. Sumur ga layak minum. Bau kolam 1×24 jam, malam bau masakan,” ujarnya Senin, 20 April 2026 melalui pesan instagram (DM) Cianjur Update.
Ia juga menyebutkan bahwa dapur MBG tersebut merupakan lokasi pindahan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
“Katanya dapur ini pindahan ga jauh dari rumah saya,” ujar dia.
Selain itu, ia mengaku telah berbincang dengan pihak SPPG dan menilai Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tidak layak serta belum memiliki izin lainnya.
BACA JUGA: Diduga Keracunan MBG, Balita di Cianjur Meninggal Akibat Syok Septik
“Setelah ngobrol sama pihak dapur, IPAL gak layak dan belum punya izin yang lainnya. Malam jam segini berisik jadi saya gak bisa tidur selain bau,” tambah Mira.
Atas keluhannya, ia telah melaporkan hal tersebut kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur dan sempat melakukan musyawarah dengan pihak desa setempat. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang dirasakan.
“Udah lapor ke LH, musyawarah sama desa, dan masih aja begini,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Komarudin mengatakan, bahwa pengelolaan lingkungan harus menjadi prioritas utama, terutama terkait instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang masih menjadi sorotan masyarakat.
BACA JUGA: Puluhan Warga Cianjur Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG, Mayoritas Balita dan Ibu Menyusui
Ia menyampaikan bahwa pihak berkaitan dalam hal ini dapur MBG tersebut tengah melakukan proses perbaikan IPAL yang diharapkan selesai dalam waktu dekat.
“Jadi ada tiga hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, pengurusan administrasi dan perizinan lingkungan. Kedua, pengelolaan lingkungan yang baik agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Ketiga, penyelesaian masalah IPAL yang dianggap krusial karena menjadi sumber utama pengaduan warga,” paparnya kepada Cianjur Update saat dihubungi, Selasa 28 April 2026.
“Pengaduan yang paling serius dari masyarakat itu adalah soal bau limbah domestik. Setelah kami cek, memang ada peningkatan bau, terutama ketika aktivitas dapur MBG berlangsung. Namun, saat ini sedang diperbaiki dan mudah-mudahan minggu depan sudah selesai katanya,” ujar Komarudin.
BACA JUGA: Satgas Cianjur Sesalkan Dugaan Pemukulan di Lingkungan SPPG Kubang: Itu Bukan Cerminan Program MBG
Ia juga menambahkan bahwa keluhan warga tidak hanya terkait limbah, tetapi juga bau dari aktivitas memasak. Namun, menurutnya hal tersebut sulit dihindari.
“Kalau bau masakan, itu wajar. Yang penting kita arahkan agar ada koordinasi dengan warga setempat supaya dampaknya bisa diminimalisir,” jelasnya.
DLH Cianjur kini mulai melakukan pendataan terhadap perusahaan atau pihak yang memiliki IPAL. Pendataan ini akan dibagi menjadi tiga kategori: yang belum memiliki IPAL, yang memiliki IPAL tetapi tidak sesuai ketentuan, serta yang sudah memiliki IPAL sesuai aturan dan berfungsi dengan baik.
“Langkah ini penting agar jelas mana yang patuh dan mana yang harus diperbaiki,” tegasnya.
Dengan langkah tersebut, DLH berharap pengelolaan lingkungan di Cianjur dapat berjalan lebih baik dan keluhan masyarakat bisa berkurang.
Sementara itu, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cilaku Sukasari 3, Aulia Rachman, memberikan klarifikasi terkait keluhan warga mengenai dugaan pencemaran lingkungan akibat aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur.
Aulia membantah bahwa aroma tidak sedap yang dikeluhkan warga berasal dari limbah produksi. Menurutnya, aroma tersebut merupakan uap dari proses memasak dalam skala besar.
Pihak SPPG menegaskan bahwa pengelolaan limbah cair di fasilitas tersebut telah menggunakan teknologi yang sesuai standar.
“Kalau bau limbah tidak. Karena kami memakai IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) dari perusahaan. Keluhan warga kemarin itu bukan bau limbah tapi ke bau masakan, karena memang kami sedang produksi makanan,” ujar Aulia saat dikonfirmasi, Selasa (28/4/2026) malam.
BACA JUGA: Satgas MBG Cianjur Investigasi SPPG Cisarandi 2 soal Dugaan Telur Berbelatung
Ia menjelaskan bahwa aktivitas dapur yang memproduksi makanan dalam jumlah masif secara teknis akan mengeluarkan aroma masakan. Selain itu, Aulia menyatakan pihaknya telah beralih dari sistem pengelolaan limbah konvensional ke sistem IPAL yang lebih modern sejak pekan lalu.
“Sebelumnya memang pakai sistem konvensional, sekarang sudah diganti. Dari minggu lalu sudah dipasang IPAL baru dari perusahaan, dan sudah dapat izin,” tambahnya.
Menanggapi keberatan warga, pihak SPPG mengaku telah melakukan langkah persuasif melalui mediasi yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa Sukasari. Aulia mengklaim bahwa keluhan tersebut merupakan persoalan lama yang saat ini sudah ditangani sesuai kesepakatan mediasi.
“Kemarin juga sempat ada warga yang datang, lalu kami tindak lanjuti. Kami juga sudah ikut mediasi di desa yang juga dihadiri oleh ybs, Babinsa, bhabinkamtibmas, RT/RW, BPD. Hasilnya ada masukan untuk perbaikan, dan itu sudah kami lakukan,” tutupnya.***
Penulis: Tim
Editor: Dadan Suherman





















