Hasil Uji Lab: Nitrit Tinggi Ditemukan pada Tumis Pakcoy MBG di Leles Cianjur
CIANJURUPDATE.COM – Misteri penyebab keracunan massal yang menimpa 143 balita di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, mulai terungkap. Berdasarkan hasil uji laboratorium, menu Makan Siang Bergizi (MBG) di wilayah tersebut dinyatakan positif mengandung cemaran bakteri serta zat kimia nitrat dan nitrit yang melampaui ambang batas aman.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Javed Sumawe Matapung, menjelaskan bahwa pihaknya telah menguji 12 sampel makanan dari program MBG yang disajikan selama periode 15-17 April 2026.
“Betul ada bakteri yang ditemukan, bukan bakteri ecoli. Tapi bakteri tersebut dapat memicu gangguan kesehatan. Dan ini ditemukan dalam sampel makanan MBG pada Rabu, Kamis, dan Jumat saat kejadian gejala keracunan,” ujar Javed pada Selasa (12/5/2026).
Javed menambahkan bahwa keberadaan bakteri tersebut diduga kuat berasal dari proses pengolahan yang kurang higienis, mulai dari pembersihan bahan baku hingga pengemasan. “Bakteri ini dipicu adanya aktivitas sentuhan, jadi karena masalah kehigienisan,” tambahnya.
BACA JUGA: Diduga Keracunan MBG, Balita di Cianjur Meninggal Akibat Syok Septik
Laporan berbeda dari Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) menyoroti temuan zat kimia pada menu tumis pakcoy tertanggal 16 April 2026. Hasil uji Labkesda Jawa Barat menunjukkan adanya cemaran nitrit sebesar 11,85 mg/kg.
Angka tersebut mencapai 169 kali lipat dari batas maksimum yang ditetapkan oleh The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), yakni sebesar 0,07 mg/kg.
Ketua Tim Investigasi Independen MBG, Karimah Muhammad, menjelaskan bahwa secara alami nitrit dapat muncul pada sayuran, namun kadarnya bisa meningkat tajam akibat aktivitas bakteri atau faktor eksternal.
“Dugaan sumber cemaran lain dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan, atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian,” jelas Karimah. Ia pun mendesak adanya koordinasi lintas sektor, termasuk Kementerian Pertanian, untuk menangani isu keamanan pangan ini secara serius.
BACA JUGA: Puluhan Warga Cianjur Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG, Mayoritas Balita dan Ibu Menyusui
Pasca-insiden tersebut, operasional Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) Leles 2 dihentikan untuk sementara waktu. Koordinasi SPPG Kabupaten Cianjur, Sirojudin, menyatakan bahwa sebagian penerima manfaat kini dialihkan ke SPPG lain yang terdekat.
“Sampai sekarang SPPG tersebut masuk berhenti operasi. Sebagian penerima manfaat ditangani SPPG lain, sedangkan sebagian lagi belum menerima MBG karena tidak tercover SPPG terdekat,” kata Sirojudin.
Terkait langkah hukum atau sanksi terhadap pengelola SPPG pasca-keluarnya hasil laboratorium ini, pihak daerah masih menunggu instruksi lebih lanjut. “Untuk sanksi lebih lanjut, menunggu informasi dari BGN pusat,” pungkasnya.***





















