Bitcoin Masuk Reaccumulation, Apakah Akan Mencapai US$90.000?
CIANJURUPDATE.COM – Setelah sempat bergerak lesu akibat tekanan sentimen global, Bitcoin kini mulai memperlihatkan struktur yang dianggap menarik oleh banyak analis. Kombinasi data on-chain, indikator siklus historis, serta membaiknya kondisi makro global. Mungkinkah Bitcoin area US$90.000.
Di tengah meningkatnya minat terhadap aset digital global, banyak investor Indonesia juga mulai aktif mencari informasi seperti 100 Dollar berapa Rupiah untuk menghitung nilai investasi mereka ketika pasar crypto mulai bergerak lebih agresif.
Selain itu, pemantauan USDT to IDR juga semakin penting karena sebagian besar transaksi aset crypto masih menggunakan stablecoin berbasis dolar sebagai acuan utama perdagangan. Untuk itu membutuhkan aplikasi yang tepat.
Baca Juga: Prediksi Harga Bitcoin April 2026: Analisis Tren, ETF, Whale, dan Strategi Trading
Salah satu aplikasi yang cukup populer adalah Pintu. Platform ini menyediakan berbagai aset digital populer seperti Bitcoin serta fitur edukasi yang membantu investor memahami market crypto, analisis teknikal, hingga tren makro ekonomi global yang mempengaruhi harga aset digital.
Bitcoin Tunjukkan Sinyal Reaccumulation
Data terbaru dari analis on-chain CryptoZ mulai menarik perhatian komunitas crypto global. Pada 23 Mei 2026, ia membagikan indikator Transaction Volume Strength yang menunjukkan Bitcoin telah memasuki zona akumulasi ekstrem.
Menariknya, area tersebut sebelumnya hanya muncul pada fase-fase penting dalam sejarah Bitcoin seperti 2015, 2018, dan 2022. Ketiga periode tersebut dikenal sebagai titik dasar market sebelum Bitcoin memasuki reli besar berikutnya.
Menurut CryptoZ, kondisi saat ini menunjukkan adanya divergensi yang cukup unik. Harga Bitcoin masih bertahan di area tinggi secara makro, tetapi volume transaksi justru turun ke level yang biasanya terlihat saat bear market.
Baca Juga: Jika US$114.000 Tercapai, Harga Bitcoin Berpotensi Breakout Menuju Level Baru
Kondisi tersebut dianggap sebagai tanda bahwa pasar sedang mengalami fase kompresi. Dalam fase ini, volatilitas mengecil, pergerakan harga terlihat stagnan, dan likuiditas mulai dikumpulkan secara perlahan oleh pelaku pasar besar.
Banyak analis percaya bahwa fase seperti ini sering kali menjadi awal dari akumulasi institusi sebelum terjadi breakout besar. Bahkan menyebut pasar saat ini tampak “sunyi”, tetapi justru berpotensi menjadi pondasi penting sebelum lonjakan harga berikutnya dimulai.
Pola Historis Bitcoin Mulai Terulang
Dalam beberapa siklus sebelumnya, Bitcoin memang sering mengalami fase reaccumulation sebelum memasuki reli parabolik.
Pada 2015, Bitcoin bergerak sideways cukup lama sebelum akhirnya memulai bull run menuju US$20.000 pada 2017. Situasi serupa juga terjadi setelah bear market 2018 dan koreksi besar pada 2022.
Ketika volume transaksi melemah tetapi harga tetap bertahan kuat, pasar biasanya sedang mengalami redistribusi kepemilikan dari investor retail ke institusi atau smart money. Karena itu, sebagian trader mulai melihat kondisi market saat ini sebagai peluang strategis dibanding ancaman.
Walaupun demikian, investor tetap harus memahami bahwa pola historis tidak selalu menjamin hasil yang sama di masa depan.
Baca Juga: Whale Pindahkan Bitcoin $170 Juta dan Dominasi USDT Melemah
Bitcoin Masih Hadapi Tekanan Jangka Pendek
Di balik narasi bullish tersebut, kondisi jangka pendek Bitcoin sebenarnya masih belum sepenuhnya aman. Data dari analis on-chain Axel Adler Jr menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini masih diperdagangkan di bawah short-term holder (STH) cost basis yang berada di area US$80.217.
Sementara itu, harga Bitcoin masih bergerak di kisaran US$77.550 hingga US$78.000. Artinya, sebagian besar holder jangka pendek saat ini masih berada dalam posisi rugi. Situasi tersebut sering memicu tekanan jual ketika harga mulai naik karena investor mencoba keluar di titik impas.
Axel Adler Jr menjelaskan bahwa area US$80.200 kini menjadi resistance psikologis penting bagi Bitcoin. Selama Bitcoin belum berhasil merebut kembali level tersebut secara meyakinkan, setiap kenaikan masih berpotensi dianggap sebagai relief rally sementara.
Selain itu, data Net Realized Profit/Loss juga menunjukkan pasar masih mengalami tekanan distribusi. Kerugian yang direalisasikan investor tercatat mencapai sekitar US$366 juta, sedangkan profit hanya sekitar US$190 juta. Hal tersebut menunjukkan tekanan jual masih ada walaupun belum terlalu agresif.
Sentimen Makro Mulai Mendukung Crypto
Walaupun tekanan jangka pendek masih terlihat, kondisi makro global mulai memberikan angin segar bagi pasar crypto. Pasar crypto berhasil memulihkan sekitar US$75 miliar kapitalisasi pasar setelah muncul kabar mengenai perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan dan kini tinggal menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Iran, serta beberapa negara Timur Tengah lainnya.
Salah satu poin penting dari pembicaraan tersebut adalah rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Kabar tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan geopolitik global.
Ketika kondisi geopolitik membaik, minat investor terhadap aset berisiko seperti saham teknologi dan crypto biasanya ikut meningkat. Hal ini terlihat dari pergerakan Bitcoin yang mampu naik cukup cepat dari area US$75.000 menuju kisaran US$77.000 hingga US$78.000 hanya dalam waktu singkat.
Baca Juga: Harga Bitcoin Hari Ini Anjlok ke Level Terendah Sejak 18 Bulan Terakhir
Area Kunci Bitcoin yang Wajib Diperhatikan
Saat ini, level US$80.200 menjadi titik paling penting bagi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek. Jika Bitcoin berhasil reclaim area tersebut dan bertahan di atasnya, peluang menuju US$90.000 akan semakin terbuka.
Banyak analis teknikal melihat area US$90.000 sebagai target awal apabila fase reaccumulation benar-benar terkonfirmasi menjadi awal bull run baru. Selain itu, breakout di atas resistance utama juga dapat memicu masuknya likuiditas baru dari investor retail maupun institusi.
Namun, apabila Bitcoin gagal menembus area resistance tersebut, pasar masih berpotensi mengalami konsolidasi lebih panjang sebelum melanjutkan kenaikan berikutnya. Karena itu, beberapa hari dan minggu ke depan dianggap sangat penting dalam menentukan arah market crypto secara keseluruhan.
Baca Juga: El Salvador Siap Jadikan Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang Sah
Aktivitas Institusi Mulai Jadi Sorotan
Selain data teknikal dan on-chain, aktivitas institusi juga mulai kembali menjadi perhatian pasar. Banyak investor besar disebut mulai meningkatkan eksposur terhadap Bitcoin di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan perkembangan industri AI.
Bitcoin kini semakin sering dianggap sebagai aset lindung nilai alternatif selain emas, terutama setelah adopsi ETF Bitcoin spot terus berkembang di Amerika Serikat. Jika arus dana institusi terus meningkat, maka peluang Bitcoin memasuki fase ekspansi baru akan semakin besar.
Investor Tetap Harus Waspada
Walaupun narasi bullish mulai menguat, investor tetap harus berhati-hati terhadap volatilitas pasar crypto yang masih sangat tinggi.
Faktor seperti kebijakan suku bunga The Fed, regulasi crypto global, konflik geopolitik, dan kondisi ekonomi Amerika Serikat masih dapat memengaruhi arah market dalam waktu singkat.
Platform seperti Pintu juga dapat membantu investor Indonesia memantau pergerakan harga Bitcoin secara real-time sekaligus mempelajari berbagai indikator market melalui fitur edukasi crypto yang tersedia.
Memasuki akhir Mei 2026, Bitcoin mulai menunjukkan struktur market yang menarik. Fase reaccumulation yang terlihat pada data on-chain memberi harapan bahwa reli besar berikutnya mungkin sedang dipersiapkan.
Jika resistance US$80.200 berhasil ditembus, maka target US$90.000 bisa menjadi skenario realistis dalam beberapa bulan mendatang. Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.
Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.





















