Menteri Wihaji Pastikan Program MBG 3B Berjalan di Cipanas, Soroti Edukasi KB dan Penanganan KRS
CIANJURUPDATE.COM – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Cianjur dengan menyambangi dua keluarga di Kecamatan Cipanas, pada Rabu (4/3/26).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus 3B, yakni ibu menyusui, ibu hamil, dan balita non-PAUD.
Wihaji mengatakan, kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden yang menugaskan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga untuk membantu pendistribusian MBG khusus 3B, sekaligus melakukan evaluasi dan edukasi di lapangan.
“Hari ini saya melaksanakan kunjungan kerja ke dua rumah di Cianjur. Setelah ini kami juga bertemu dengan Tim Pendamping Keluarga (TPK). Saya ingin memastikan program MBG khusus 3B di Cipanas sudah berjalan dengan baik,” ujar Wihaji.
BACA JUGA: Oknum Berjaket Ojek Online Diduga Mencuri iPhone 11 Milik Karyawan Toko Busana di Maleber Cianjur
Dalam peninjauan tersebut, ia memastikan distribusi MBG tetap berjalan meski di bulan Ramadan, dengan menu yang disesuaikan dalam bentuk makanan kering. Ia juga mengecek langsung pelaksanaan di lapangan, termasuk berdialog dengan warga penerima manfaat.
Menurutnya, program MBG 3B di Cipanas telah terlaksana dengan baik. Ia juga mengapresiasi kinerja SPPG dan para TPK yang mendistribusikan bantuan hingga berjalan kaki ke rumah-rumah warga. Para TPK, lanjutnya, juga telah menerima insentif sesuai keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) bersama kementeriannya terkait pembiayaan.
“Alhamdulillah, para TPK sudah bekerja maksimal dan insentifnya juga sudah diterima. Mereka menjalankan tugas negara sambil berolahraga karena banyak yang berjalan kaki,” katanya.
Secara nasional, Wihaji menyebutkan bahwa program MBG telah menjangkau 6,2 juta penerima manfaat setiap hari dengan melibatkan sekitar 52 ribu TPK di seluruh Indonesia. Meski belum menjangkau seluruh pelosok, pemerintah menargetkan distribusi akan terus diperluas.
BACA JUGA: Konflik Iran-Israel Memanas, Kemenhaj Cianjur Imbau Travel Tunda Keberangkatan Umroh
Dalam kunjungan tersebut, Wihaji menyambangi dua keluarga berisiko stunting (KRS). Keluarga pertama memiliki tiga anak, sementara keluarga kedua memiliki lima anak dan balita. Ia menyoroti beberapa faktor penyebab stunting, yakni asupan gizi, sanitasi, akses air bersih, dan pernikahan dini.
“Di Cianjur angka stunting sudah lumayan, sekitar 7 persen, di bawah nasional. Tapi tetap harus kita intervensi. Dari empat penyebab utama stunting, di sini yang terlihat adalah faktor ekonomi, sanitasi, dan perencanaan keluarga,” jelasnya.
Ia mencontohkan salah satu rumah yang dikunjungi memiliki kondisi MCK menyatu dengan dapur serta ruang terbuka yang kurang layak. Pemerintah, kata dia, akan memberikan bantuan renovasi rumah senilai sekitar Rp25 juta, bahkan bisa mencapai Rp50 juta sesuai kebutuhan.
“Ini bagian dari kehadiran pemerintah untuk membantu keluarga risiko stunting. Tidak semua bisa langsung dibantu, tapi kita mulai dari prioritas dan super prioritas. Menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan satu generasi,” tegasnya.
Selain itu, Wihaji juga menyoroti pentingnya edukasi keluarga berencana (KB). Ia menemukan beberapa kasus kelahiran yang tidak direncanakan akibat kegagalan penggunaan kontrasepsi pil.
“Perlu edukasi lebih lanjut. KB bukan semata soal kontrasepsi, tetapi bagaimana merencanakan keluarga agar anak-anak yang lahir bisa ditata dengan baik, mendapatkan pendidikan, dan kehidupan yang layak,” ungkapnya.
Ia berharap melalui penguatan program KB dan intervensi terpadu, kualitas keluarga di Cianjur dapat terus meningkat, sehingga anak-anak yang saat ini belum bersekolah bisa mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik ke depannya.***





















