Diduga Keracunan MBG, Balita di Cianjur Meninggal Akibat Syok Septik
CIANJURUPDATE.COM — Seorang balita berusia dua tahun berinisial MAB, warga Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (23/4/2026) sore. Pasien tersebut diduga menjadi korban keracunan makanan setelah mengonsumsi menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (14/4).
Sebelum meninggal dunia di RSUD Pagelaran, korban sempat menjalani perawatan di Puskesmas Leles. Namun, akibat kondisi kesehatan yang terus menurun, pihak puskesmas merujuk balita tersebut ke RSUD Pagelaran pada Rabu (22/4) sekitar pukul 16.30 WIB.
Direktur RSUD Pagelaran, dr. Irvan Nur Fauzi, membenarkan bahwa korban tiba di unit gawat darurat (UGD) dalam kondisi kritis dan membutuhkan tindakan medis segera.
Baca Juga: Puluhan Warga Cianjur Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG, Mayoritas Balita dan Ibu Menyusui
“Pasien balita ini merupakan rujukan dari Puskesmas Leles, tiba di IGD langsung mendapatkan penanganan karena kondisinya tidak stabil, lemas, pusing, dan tangan serta kaki bengkak,” kata Irfan, Sabtu (25/4).
Setelah menerima penanganan medis intensif selama kurang lebih 12 jam, nyawa pasien tidak tertolong. Berdasarkan pemeriksaan medis, penyebab utama kematian adalah syok septik yang berkaitan dengan komplikasi gangguan pencernaan.
“Hanya sekitar 12 jam dari pertama tiba di IGD, pasien meninggal dunia. Diagnosisnya syok septik. Karena, sejak awal penangan pasien juga ada riwayat diare,” jelas Irvan.
Kasus yang menimpa MAB ini merupakan bagian dari insiden keracunan massal yang melibatkan 134 anak di Kecamatan Leles. Kepala Puskesmas Leles, Tedi Nugraha, menyatakan bahwa laporan mengenai gejala keracunan sudah masuk sejak awal pekan lalu.
“Keluhan sudah muncul sejak Senin sore, tetapi masih sedikit. Mulai meningkat pada Kamis dan Jumat, hingga total tercatat 134 orang yang sudah mendapatkan penanganan,” tutur Tedi belum lama ini.
Sebelum penanganan medis dipusatkan di puskesmas, sebagian korban sempat diberikan pertolongan pertama di aula kantor desa setempat. Tedi mencatat, dari ratusan anak yang terdampak, dua di antaranya mengalami gejala paling berat hingga memerlukan penanganan lanjutan di rumah sakit.
“Dari ratusan pasien, dua orang pasien di antaranya dalam kondisi buruk. Sehingga, harus mendapatkan penanganan intensi. Bahkan, ada yang harus dirujuk ke RSUD Pagelaran,” pungkasnya.***
Editor: Indra Arfiandi





















