CIANJURUPDATE.COM — Penolakan warga terhadap proyek geothermal di wilayah Pasir Cina, Desa Cipendawa, Kabupaten Cianjur, kembali menguat. Koordinator Suryakencana sekaligus wakil masyarakat penolak geothermal, Aryo, menegaskan bahwa tidak ada lagi alat berat yang diperbolehkan masuk ke jalur penolakan geothermal.
“Tak ada lagi alat berat yang masuk di jalur penolakan geothermal. Tindakan kita mungkin akan lebih radikal, tapi tetap secara kondusif,” ujar Aryo kepada wartawan, Rabu (14/1/26).
Menurutnya, masyarakat tetap mengedepankan kerja sama yang baik serta menghargai dinamika dan potensi benturan yang terjadi di lapangan. Ia menegaskan bahwa gerakan penolakan dilakukan secara sadar dan terorganisir.
Aryo mengungkapkan, sebelumnya masyarakat sempat menghadiri musyawarah desa. Namun di tengah kegiatan tersebut, alat berat justru kembali diaktifkan sehingga memicu kepanikan warga.
BACA JUGA: Alat Berat Disegel Warga, Buntut Kekecewaan atas Proyek Geothermal Cianjur
“Tadi sempat ke desa untuk musyawarah desa. Di separuh waktu ternyata alat berat diaktifkan, jadi masyarakat bubar dan lari ke sini. Terutama ibu-ibu yang emosinya tidak terkendali,” jelasnya.
Ia juga menegaskan penolakan mutlak terhadap penggunaan akses jalan di RW 02 dan RW 03 Pasir Cina tanpa syarat apa pun. Menurutnya, warga tidak membuka ruang kompromi, termasuk dalam bentuk kompensasi.
“Untuk akses jalan di RW 02 dan 03 Pasir Cina, kita tolak tanpa syarat dan tanpa kompromi. Artinya kita tidak menerima kompensasi. Ini memang membingungkan bagi masyarakat, tapi ya beginilah adanya,” tegas Aryo.
Lebih lanjut, Aryo menekankan bahwa penolakan proyek geothermal bukan berkaitan dengan persoalan akses jalan maupun lahan garapan. Ia menyebut, inti dari gerakan ini adalah upaya menjaga kelestarian kawasan Gunung Gede Pangrango.
“Penolakan geothermal ini intinya kami menjaga Gunung Gede Pangrango. Bukan masalah akses, bukan masalah garapan,” pungkasnya.***
