Warga Pasir Cina Cianjur Paksa Mundur Alat Berat, Tegas Tolak Aktivitas Proyek Geothermal
CIANJURUPDATE.COM – Warga Kampung Pasir Cina Girang, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, kembali menegaskan penolakan keras terhadap aktivitas proyek panas bumi (geothermal) di wilayah mereka. Hal ini memuncak setelah satu unit alat berat jenis ekskavator milik kontraktor proyek geothermal kedapatan melintas di jalur pemukiman warga, Minggu (11/1/2026).
Tokoh masyarakat setempat, Aryo Prima, langsung turun ke lokasi untuk memprotes keberadaan alat berat tersebut. Ia menegaskan bahwa wilayah RW 02 dan RW 03 merupakan zona merah penolakan warga yang tidak boleh dilalui oleh kendaraan operasional proyek.
Menurutnya, alat berat tersebut masuk secara diam-diam pada dini hari tanpa adanya sosialisasi atau izin kepada warga terdampak.
“Kemarin malam sekitar pukul 02.00 pagi, dua subuh, dua lewat sepuluh, memang ini lewat di jalur RW 02, 03 yang mana itu adalah jalur penolakan,” ungkap Aryo di lokasi kejadian, Minggu (11/1/2026).
Aryo menyayangkan sikap perangkat lingkungan yang dinilai tidak transparan. Ia menyebutkan bahwa meskipun pihak Badan Permusyawaratan Desa (BPD) mengklaim telah berkoordinasi dengan Ketua RW, informasi tersebut tidak diteruskan kepada masyarakat.
“Kita sesalkan bahwa tidak ada pemberitahuan dari para RW, yang menurut Bapak dari BPD bahwa para RW sudah diberitahu, tapi RW tidak menyampaikan ke rakyat,” ujarnya.
Baca Juga: Geruduk Pendopo Cianjur, Ribuan Masa Tagih Janji Bupati Tolak Geothermal Tanpa Kompromi
Diketahui, ekskavator tersebut merupakan milik kontraktor yang disewa oleh PT Dayamas Geotermal Pangrango, yang rencananya akan digunakan untuk pembukaan jalur jalan ke arah Cibuntur. Mengetahui hal tersebut, warga mendesak agar alat berat segera dikeluarkan dari lokasi hari ini juga untuk mencegah konflik horizontal.
“Apapun jadinya bahwa saya mengharap supaya semua mobil ekskavator atau mobil kendaraan berat dari perusahaan atau kontraktor perusahaan untuk tidak melewati jalur penolakan,” tegasnya.
Dalam aksi tersebut, Aryo memberikan ultimatum kepada pihak pengembang geothermal agar menghormati sikap warga dan tidak memancing keributan dengan memaksakan alat berat masuk melalui jalur pemukiman.
“Silakan ambil jalur sendiri, jangan membuat heboh sehingga massa berkumpul. Sekarang beko ini, sore ini juga, selang satu hari dari datangnya kemarin subuh, harus diturunkan. Karena permintaan dari masyarakat warga, karena warga tidak ada konfirmasi ke arah warga juga ke RW 02 dan 03,” desaknya.
Aryo juga meminta kepada aparat desa setempat, mulai dari Kepala Desa hingga BPD, untuk menyampaikan peringatan keras ini kepada pihak perusahaan. Ia menekankan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
“Saya pesankan untuk tidak mengulangi lagi membawa alat berat melewati jalur penolakan yaitu RW 02, RW 03, jalur Pasir Cina. Silakan lewat mana saja. Jangan membuat datangnya kerumunan massa dan banyak keributan di RW 02, 03 gara-gara alat berat seperti gini,” kata dia.
Proses pengeluaran alat berat tersebut akhirnya dilakukan pada sore hari dengan pengawalan ketat dari warga. Aryo menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa transparansi adalah kunci utama dan pihak yang benar tidak perlu menyembunyikan aktivitasnya.
“Segala sesuatu yang ada pada pihak kebenaran tidak perlu disembunyikan. Saya Aryo Prima dari Gerakan Sunda Kencana 4312 Sajagat,” pungkasnya.***



