Berita

Ritual “Celup Rezeki” di Cianjur Viral, Dikaitkan Bisa Bikin Kaya dan Dapat Jodoh, Padepokan Tegaskan Bukan Praktik Sesat, Melainkan Mandi Tobat

CIANJURUPDATE.COM – Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh cuplikan video ritual pemandian di sebuah padepokan di Cianjur yang dijuluki warganet sebagai ritual “celup rezeki”. Meski narasi media sosial menyudutkan praktik tersebut sebagai tindakan syirik dan sesat, pihak padepokan akhirnya angkat bicara untuk meluruskan simpang siur yang terjadi.

Ritual tersebut diketahui berlokasi di Padepokan Lembah Dzikir, Kampung Salahuni, Desa Babakan Karet, Kecamatan Cianjur. Dalam video yang beredar, tampak seorang pria berendam di kolam sementara seorang pembimbing memegang kepalanya sembari melantunkan doa—sebuah visual yang memicu perdebatan panas di kolom komentar.

Pimpinan Padepokan Lembah Dzikir, H. Nasrudin atau yang akrab disapa Kang Jimam, secara tegas membantah tudingan praktik sesat. Menurutnya, istilah “celup rezeki” merupakan pelabelan sepihak dari netizen, sementara secara substansi, aktivitas tersebut adalah bagian dari disiplin spiritual.

“Yang ada di video itu sebenarnya adalah mandi tobat, bukan ritual untuk mencari kekayaan. Itu bagian dari rangkaian riyadhoh yang harus dijalani jemaah,” ujar Jimam belum lama ini.

BACA JUGA: ‘Gercep’ Tekan Angka Putus Sekolah di Cianjur, Lukmanul Hakim Serahkan Beasiswa Aspirasi untuk 198 Siswa SDN Sindanglaya

Jimam menjelaskan bahwa terjadi diskoneksi antara narasi video pendek dengan tujuan asli dari ritual tersebut. Menurutnya, pemandian itu adalah simbolisasi dari penyucian lahir dan batin.

“Intinya mandi itu untuk menyucikan diri. Kalau orang bersih, sehat, pikirannya jernih, tentu bisa bekerja lebih baik, berusaha lebih maksimal. Soal jodoh pun begitu, kalau tidak mandi dan tidak merawat diri, siapa yang mau,” tambahnya.

Eksistensi Padepokan Lembah Dzikir rupanya bukan baru kemarin sore. Jimam mengklaim praktik ini telah berjalan selama 16 tahun dengan merujuk pada tradisi keilmuan ulama terdahulu. Para jemaah yang datang tidak hanya sekadar mandi, melainkan harus menjalani serangkaian ibadah yang intensif.

Puasa Tobat, Persiapan spiritual sebelum memulai rangkaian utama, Mandi Tobat, proses penyucian diri secara fisik dan simbolis, Dzikir Intensif, pembacaan Surat Al-Ikhlas sebanyak 100 ribu kali dalam kurun waktu tiga hari.

BACA JUGA: Dan Terjadi Lagi, Tiga Warga Sukamulya Diduga Keracunan Jamur Liar

“Semua ada dasar keilmuannya, dan sejak 2008 tidak pernah ada yang merasa disesatkan,” tegas Jimam.

Selain sisi spiritual, padepokan ini berfungsi sebagai wadah rehabilitasi mental bagi masyarakat yang tengah mengalami krisis hidup, mulai dari kebangkrutan hingga kehilangan motivasi.

Menepis isu adanya motif komersial di balik viralnya video tersebut, Jimam memastikan bahwa operasional padepokan bersifat sosial. Jemaah yang datang, terutama dari kalangan tidak mampu, tidak dipungut biaya sepeser pun, bahkan disediakan konsumsi selama menjalani masa mondok.

“Tidak ada pungutan apa pun. Jemaah malah kami beri makan selama mondok. Banyak yang datang itu orang tidak mampu, jadi bagaimana mau menipu? Di sini kami hanya mengajarkan penyucian diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pungkasnya.***

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button