Pendidikan

Menelusuri Bumi Ageung Cikidang, ‘Rumah Besar’ Saksi Bisu Kejayaan Cianjur

CIANJURUPDATE.COM – Di balik modernitas Kabupaten Cianjur yang terus berkembang, berdiri sebuah bangunan klasik yang seolah membawa kita kembali ke masa silam. Terletak di jantung kota, Bumi Ageung Cikidang tetap berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan panjang sejarah Tatar Pasundan, mulai dari era kolonial hingga detik-detik perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kediaman Sang Bupati Legendaris

Bumi Ageung Cikidang bukan sekadar bangunan tua. Dahulu, rumah ini merupakan kediaman sekaligus tempat peristirahatan Raden Arya Adipati Prawiradiredja II, Bupati Cianjur ke-10 yang menjabat selama hampir setengah abad (1862–1910).

Di bawah kepemimpinannya, Cianjur mencapai masa keemasan sebagai wilayah yang makmur dan disegani. Didirikan pada tahun 1886, nama “Bumi Ageung” sendiri diambil dari bahasa Sunda yang berarti “Rumah Besar”. Nama ini bukan tanpa alasan; ia mencerminkan fungsi sosial dan kedudukan tinggi sang pemilik pada masanya.

Setelah beliau wafat pada 1910, rumah megah ini diwariskan kepada putri semata wayangnya, Raden Ayu Tjihtjih Wiarsih, yang terus menjaga marwah bangunan tersebut.

Markas Perumusan PETA

Nilai historis Bumi Ageung Cikidang melampaui sejarah pemerintahan daerah. Bangunan ini memiliki peran krusial dalam peta perjuangan nasional.

Pada masa pendudukan Jepang (1943–1945), dinding-dinding kayu bangunan ini menjadi saksi diskusi-diskusi penting. Di sinilah Gatot Mangkoepradja merumuskan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (PETA), cikal bakal kekuatan militer Indonesia yang menjadi tulang punggung pertahanan bangsa di kemudian hari.

Diplomasi Lewat Koleksi Antik

Memasuki area dalam Bumi Ageung, pengunjung akan disuguhi interior kayu yang klasik dan alami. Berbagai peninggalan bersejarah bernilai tinggi tersimpan rapi di sini, mulai dari foto dokumentasi masa lalu, piagam, hingga perabot antik.

Menariknya, terdapat koleksi yang menunjukkan kedekatan diplomatik Cianjur dengan dunia internasional di masa lalu. Beberapa di antaranya adalah:

  • Lemari Kayu Eksklusif: Hadiah langsung dari Putra Mahkota Austria.
  • Gelas Keramik: Artefak buatan Belanda yang masih terawat.
  • Dokumentasi Langka: Foto-foto bersejarah yang salinannya diperoleh langsung dari museum di Inggris.
  • Alat Musik Tradisional: Kecapi asli Jawa Barat yang mempertegas identitas budaya lokal.

BACA JUGA: Cianjur Krisis Cagar Budaya, Disparpora Genjot Pelestarian Bangunan Bersejarah

Cagar Budaya yang Terjaga Secara Mandiri

Meski telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Nasional sejak tahun 2010 oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, pengelolaan Bumi Ageung Cikidang masih dilakukan secara swadaya oleh keluarga keturunan Raden Arya Adipati Prawiradiredja II.

Saat ini, penjagaan gedung ini sudah memasuki generasi kelima. Dedikasi keluarga dalam merawat keaslian bangunan membuat pengunjung dapat merasakan atmosfer “Cianjur Tempo Dulu” yang autentik. Meski belum beroperasi sebagai museum formal yang dikelola pemerintah, pintu Bumi Ageung selalu terbuka bagi mereka yang ingin belajar dan menghargai sejarah.

Lokasi dan Kunjungan

Bagi Anda yang tertarik melakukan wisata sejarah, Bumi Ageung Cikidang berlokasi di:

  • Alamat: Jalan Mochammad Ali Nomor 54, Solokpandan, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur.
  • Waktu: Terbuka bagi masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat warisan budaya Cianjur.

Bumi Ageung Cikidang bukan sekadar aset fisik, melainkan ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami bahwa kemajuan hari ini berdiri di atas fondasi sejarah yang panjang dan berharga.

Penulis: Dewi Mutiara Zahrani (Mahasiswa Universitas Suryakancana Cianjur)
Editor: Muhammad Afsal Fauzan S.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button