204 Siswa di Cikalongkulon Diduga Keracunan Hidangan MBG, Puluhan Masih Dirawat

CIANJURUPDATE.COM – Sebanyak 204 orang di wilayah Cikalongkulon dilaporkan mengalami gejala keracunan yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga Selasa (27/1) malam, pihak kepolisian dan tenaga medis masih terus melakukan pendataan serta penanganan intensif terhadap para korban.
BACA JUGA: Ratusan Siswa di Cikalongkulon Diduga Keracunan MBG, Tiga Orang Dirujuk ke Rumah Sakit
Kapolsek Cikalongkulon, AKP Arif Titim Firmanto, mengonfirmasi bahwa mayoritas korban merupakan anak-anak usia di bawah 10 tahun (siswa SD dan PAUD). Selain siswa, beberapa orang tua murid yang ikut mengonsumsi makanan tersebut juga dilaporkan mengalami kondisi serupa.
Berdasarkan keterangan di lapangan, para korban mulai merasakan keluhan kesehatan sesaat setelah mengonsumsi makanan tersebut. Gejala awal yang muncul secara serentak meliputi, mual hebat, pusing dan muntah-muntah.
BACA JUGA: Update Dugaan Keracunan MBG di Kadupandak Cianjur: 11 dari 28 Siswa SD Dirujuk ke RS
Hingga pukul 20.00 WIB, tercatat total 205 pasien yang mendapatkan penanganan medis, PKM Cijagang 189 pasien, 33 orang masih menjalani rawat inap, PKM Cikalongkulon 15 pasien, 13 orang masih menjalani rawat inap dan satu orang memilih berobat mandiri di RS Hafiz.
Kapolsek menyatakan bahwa sebagian besar warga yang kondisinya membaik telah diperbolehkan pulang, namun pemantauan terus dilakukan guna mengantisipasi adanya korban susulan.
BACA JUGA: Puluhan Siswa SD di Kadupandak Cianjur Diduga Keracunan MBG
“Saat ini kami memfokuskan investigasi pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para siswa, karena informasi dari warga ada berbau dari ayam suwir. Saat ini Sampel makanan telah diamankan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti keracunan massal ini,” ucap dia.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Cijagang, Cikalongkulon Ujang Ruhyat, menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah stabilitas kondisi pasien.
“Kami masih dalam proses observasi dan penanganan medis, sehingga belum bisa memberikan data jumlah pasti korban. Fokus kami adalah memastikan semua warga yang mengalami gejala mual dan muntah tertangani dengan cepat,” ungkapnya.***



